“Aku ga gelem duwek sing abang , ga payu mas’, aku maunya yang ijo aja mas, ujar mbah Riyem, pengemis didepan mesjid Ampel Surabaya manakala aku menyodorkan duit berwarna merah untuk sodaqoh dihari Assyura. ‘Lho mbah, duit ijo itu cuma sewu mbah, ini lebih bagus’, kata ku meyakinkan nya. ‘Ndak pokok nya aku ga gelem, ndak payu itu’. Berdebat percuma, akhirnya kucari duit ribuan lain didompet, ternyata cuma ada empat lembar. Si mbah menerimanya dengan sukacita. Ada butiran bening disudut matanya. Doa nya panjang sekali untuk ku dan keluarga ku.
‘Aneh ya pa’, ujar Rara putri bungsu ku, sembari menuju masjid ampel yang terlihat sangat luarbiasa ramainya. Biasanya orang kan seneng banget kalo dikasih duit 100ribuan. Tapi koq si mbah ngga mau, bener bener aneh. Ga aneh juga sih dek, mungkin si mbah emang seumur umur emang belum pernah liat duit merah gitu. Jadi pas kita kasih, dia kira itu cuma duit mainan. Rara tetep tidak mengerti, dia cuma terus menggeleng gelengkan kepala nya hingga kami masuk masjid ampel peninggalan Sunan Ampel, salah satu dari 9 wali. Didalam Mesjid Ampel, suasana sangat syahdu. tak henti henti nya asma Allah disebut.
Mbah Riyem, hanyalah potret kecil dari wajah negeri ini yang sesungguhnya. Ke papahan yang menggelayut ditubuh renta, hingga tak mengenal nominal terbesar mata uang yang berlaku. yang dikenal cuma duit seribu. Karena hanya itu yang bisa diperoleh setiap hari nya. Terlalu berlebihan bila para pembesar berucap tingkat kemiskinan sudah hampir lenyap di negeri ini. Kita tidak tau seberapa sering mereka tanpa dikawal ajudan masuk kekampung kampung kumuh setelah masa kampanye berlalu.
Kini kita merindukan sosok Umar Bin Khatab, yang memanggul gandum dengan bahunya sendiri untuk diberikan kepada janda yang ditinggal syahid suaminya. Kita merindukan pemimpin yang tau persis akar permasalahan, yang tidak hanya melihat kulitnya saja lalu mengambil kesimpulan bahwa ada orang yang harus diselamatkan dan ada yang harus dibiarkan tenggelam dalam ke tidak berdayaan nya.
Duhai para pemimpin, tanggungjawab mu sungguhlah berat karena kaki kiri mu berada dineraka sedang kaki kanan mu ada di surga. Bila lalai alangkah perihnya azab Tuhan yang akan engkau panggul, karena engkau menyia nyiakan amanah yang ada dipundak mu. Semua orang berharap pada mu, dan disetiap doa kami memohon agar tuhan mengampuni mu agar rido Allah tercurah pada mu. Mati lah engkau dalam dekapan iman agar surga tempat kembali mu yang kekal.


Hah, si Endut naik haji? tanya ku dalam hati, seolah tak percaya. Aku masih sedikit ragu, benar kah itu nomor GSM si Endut, sahabat ku semasa kecil dulu. Si Endut (kami selalu memanggil nya seperti itu karena beratnya lewat 1 kwintal) terkenal luarbiasa kebadungan nya. Hampir segala jenis minuman keras dari cap Topi miring sampai Chivas Regal telah ia teguk. Obat obatan mulai dari obat anjing gila hingga inex udah semua ditelan, bahkan konon kabarnya dari jarak 10 meter pun dia tau KW berapa bau asap gelek yang berhasil diendusnya. Tapi anehnya, semua kebiasaan buruknya itu tidak sedikitpun bisa menggerus berat badannya.
stress memuncak, godaan teman untuk mencoba seteguk Baccardi atau secawan margarita adalah tantangan yang sulit untuk ku lawan. Tapi manakala aku ingat suara ustadz di radio itu ‘ apa yang akan engkau banggakan dihadapan Tuhan mu?’, segera kutinggalkan mereka, meski hampir semua mengolok olok ku, cerita nya lagi.