Flexi ku bergetar, ada sms masuk. ‘ Bang, insya allah minggu depan saya dan istri akan berangkat menunaikan ibadah haji, mohon doa nya ya bang’, begitu isi pesan singkat itu.
Hah, si Endut naik haji? tanya ku dalam hati, seolah tak percaya. Aku masih sedikit ragu, benar kah itu nomor GSM si Endut, sahabat ku semasa kecil dulu. Si Endut (kami selalu memanggil nya seperti itu karena beratnya lewat 1 kwintal) terkenal luarbiasa kebadungan nya. Hampir segala jenis minuman keras dari cap Topi miring sampai Chivas Regal telah ia teguk. Obat obatan mulai dari obat anjing gila hingga inex udah semua ditelan, bahkan konon kabarnya dari jarak 10 meter pun dia tau KW berapa bau asap gelek yang berhasil diendusnya. Tapi anehnya, semua kebiasaan buruknya itu tidak sedikitpun bisa menggerus berat badannya.
‘Assalamualaikum’, suara berat nya diujung telpon, ketika menjawab telpon ku yang penuh dengan rasa penasaran. “Beneran nih ndut sms elhu, mau naik haji?’. Kenapa, ngga percaya ya bang? jawabnya. ‘Bukan cuma elhu bang yang ngga percaya. nyokap gue pun sampe sekarang masih ngga habis pikir, anak hilang nya sudah kembali lagi’, lanjutnya lagi. Koq bisa si ndut, elhu berubah sehebat itu, gimana ceritanya? tanya ku penasaran. ‘Ah, ntar kalo gue cerita elhu juga ga bakalan percaya’, jawabnya membuat ku makin penasaran.
Sekali waktu, sepulang dugem ngga sengaja aku dengar kuliah subuh di radio mobil ku, ujarnya memulai cerita. ‘Bila maut menjemput, apa yang hendak engkau banggakan dihadapan tuhan mu? ceramah pak ustadz diradio. harta mu? keturunan mu? pangkat mu? tak satupun dari itu yang akan engkau bawa duhai pemirsa radio. Hanya amalan mu lah yang akan menemani gelap nya kubur mu. ‘Bergetar aku bang, tersentak aku dari kesetengah sadaran ku efek dari drug yang baru ketelan. Berkeringat aku bang. Rasanya tak ada amalan baik selama ini dalam hidupku. ‘Namun jangan berputus asa dari rakhmat Tuhan mu, lanjut pak ustadz memotivasi. Inilah kesempatan kita untuk berbenah diri, selagi masih ada waktu, pungkas pak ustadz dalam siaran kuliah subuhnya.
Sejak itu, aku bertekad bang, untuk merubah kebiasan buruk ku. Tak mudah memang. Apalagi disaat bisnis mulai sepi,
stress memuncak, godaan teman untuk mencoba seteguk Baccardi atau secawan margarita adalah tantangan yang sulit untuk ku lawan. Tapi manakala aku ingat suara ustadz di radio itu ‘ apa yang akan engkau banggakan dihadapan Tuhan mu?’, segera kutinggalkan mereka, meski hampir semua mengolok olok ku, cerita nya lagi.
‘Wah, sungguh beruntung engkau Ndut’, puji ku tulus. Allah telah mengurai satu persatu hijab mu, hidayah Allah telah diberikan pada mu. ‘ Jujur aku sangat takut akan azab Allah untuk ku, namun aku pasrah’ , karena aku sangat yakin bahwa kasih Allah jauh lebih besar ketimbang dosa ku yang berjuta bagai buih lautan, lanjutnya lagi bak ustadz sejuta umat.
Aku yang mendengarkan ceritanya lewat telpon, sungguh tak dapat menahan haru ku. Sungguh maha besar Allah, Ia memilih siapa saja yang hendak Ia beri petunjuk, dan Ia menghinakan siapa saja yang hendak Ia hinakan. ‘Selamat jalan ya Ndut’, ujarku terbata. Tak ada balasan bagi Haji yang mabrur kecuali syurga, maka gapai dan genggamlah itu ndut, doa ku sebelum menutup flexi ku.