Davik Oktavian’s Weblog

Entries from May 2008

Ga Ada Judul Yang Pas..

May 28, 2008 · 7 Comments

Sudah lama sekali rasanya saya tidak nonton film di bioskop, ada  mungkin 5 tahun. Namun minggu lalu, saat sedang weekend ke Bandung, saya dan keluarga main ke BIP. Kesempatan emas ini, ingin saya manfaatkan bernostalgia nonton film Naga Bonar yang sudah di dubbing ulang. Sebetulnya sih, saya udah nonton film itu tidak kurang dari 3 kali, pertama saat baru pertama kali diangkat kelayar lebar sebelas tahun yang silam (2008-1987=21, bukan =11tahun yg lalu, Nining), setelah itu nonton di tivi yang diputar beberapa kali ditasiun tv swasta.

“Iya, papa, sekali kali nya ngajak nonton, film nya jadul gitu”, omel Farras (10thn) anak ku yang kini baru duduk dikelas 5. Siapa itu bintang nya, Deddy Mizwar, emang aktor terkenal ya pa? tanya nya kian sinis.  ’Arras males ah kalo nonton film itu pa’. ‘Arras ama abang mau nonton The Tarix Jabrix aja, yang maen keren pa, The Cangcuters’. “Coba papa liat rambut nya, keren banget kan pa”?  promo nya lagi, meyakinkan. ”Naga Bonar, film keren tuh dek”. Perjuangan. Semangat patriotisme nya begitu kental. Sajak yang disampaikan oleh si Naga Bonar diakhir film, buat papa merinding. “Hai pemuda Indonesia, bangkitlah kau semua. Negeri kita sudah merdeka Genderang perang sudah berbunyi dengarkan panggilan ibu Pertiwi!” “Kamu harus punya spirit itu, dek”, ceramah ku lagi.

“Iya sih papa, hare gene koq masih ngomong perjuangan”? ga jaman pa ! “Udah capek mikir nih, disekolah PR udah  bejibun, belum lagi latihan soal di tempat les, keriting nih rambut adek”. ‘Liburan harus fun pa’, nonton The Cangcuters, lucu, bisa hahahihi, lumayan kan pulang dari Bandung kita bisa seger lagi, rayunya lagi.  

Saya hanya bisa tersenyum, melihat kegigihan anak ku memperjuangkan idolanya. Beda generasi beda umur, beda pula idola nya, beda kesukaan, beda cara mengungkapkan maksud, kepada style, beda pula keinginan.

Didalam bioskop, saya inget temen temen dikantor. Ada yang NIK kepala 5, tidak sedikit kepala 6, ada yang kepala 7, dan rekrutan terakhir kepala 8. Perbedaan pasti selalu ada, sekat sekat yang melekat disimpul simpul syaraf harus segera disikat. Kapal ini harus terus melaju, berlayar, menari bersama ombak. bila terhenti? ‘bah, apa kata duniaaa ….!’

Categories: Uncategorized

Anak ku menggugat..!

May 26, 2008 · 6 Comments

Iyah.., ! si papa, jatah jajan koq tetep sama dengan kemaren. Please, disesuaikan dong pa, BBM udah naik nih, protes Bang Luthfi ( 14thn ), anak tertua ku pagi tadi. Apa kamu bilang, ‘disesuaikan?’, bah, itu bahasa orang kabinet bang, kamu jangan sembarangan pake kata itu, ntar kualat lho, canda ku. ‘Habis gimana dong pa, kemaren sih bisa, bakso semangkok ama teh botol, tujuh ribu, sekarang mah kurang pa, ceban’. ‘tambahin dong plis’, lanjutnya lagi coba merayu.

Apa hubungan nya bakso ama BBM bang? pancing ku. Wah si papa kaya’ yang ga ngerti aja, ya jelas dong pa, si mamang kan masak nya pake kompor, butuh minyak tanah. Terus dia kepasar, naek sepeda motor, ya butuh bensin, lha terus anak nya si mamang kan juga sekolah, pasti minta tambahan uang jajan juga. Nah terakhir kita kita juga nih yang jadi korban, bakso ama teh botol naek dari tujuh ribu jadi ceban. Jadi mohon disesuaikan kan lah pa, uang jajan nya. plis…

Kamu itu bang, mbok ngitung, sebulan uang jajan mu berapa coba? ga kurang dari tiga kali lipet jatah penerima BLT sebulan nya kan?, kurang mewah gimana coba?  Iyah… si papa, mbandingin nya ama penerima BLT. khas bener omongan nya kaya’ orang orang yang di tivi itu. Mbandingin itu mbok keatas dong pa, jangan terus kebawa, kapan maju nya. protes nya lagi. ‘Ya, sudah, nanti terlambat kamu sekolah, nih mama ditambahin goceng, ujar menteri keuangan dalam kabinet rumah tangga ku, sambil tersenyum senyum mendengarkan ocehan kami di meja makan sedari tadi. ‘Gitu dong, mama orang yang terbaik diseluruh dunia, ga kaya papa, ngomongnya udah kemana mana, duit nya ga keluar juga’, ujar si abang sambil cengengesan.

Di tivi, saya melihat cuplikan beberapa menteri berkomentar tentang kenaikan BBM ini. I wish bisa menurunkan harga, tapi ternyata inilah kenyataannya ujar Marie Pangestu sambil berkaca kaca. ‘Kita harus merubah paradigma dari mensubsidi produk menjadi mensubsidi rakyat’ ujar Andi Malarangeng penuh semangat. Belum selesa,i remote yang ada ditangan segera kualihkan ke channel tivi yang laen, diberitakan mulai weekend kemarin, istana dibuka untuk umum, siapa saja boleh masuk. Ada serombongan anak anak SD berbaju batik tengah diterima oleh presiden dan ibu di istana, elok tenan. di running text kubaca, wapres menyampaikan agar penerima BLT juga meminta para demonstran menghentikan aksinya.  

‘Duhai pewaris bangsa, lihatlah, istana ini juga milik mu. Disuatu masa nanti, kalian lah yang akan duduk disini, memikirkan nasib bangsa kita yang sudah mulai compang camping ini. Belajarlah penuh semangat, agar kalian tak pernah bisa dibodohi, oleh siapapun, juga oleh para pemimpin mu sendiri. Rebut kembali harta karun kita yang dijarah  baik yang ada di Papua, Kalimantan, ataupun diseluruh pojok tanah di negeri ini. Bangkitkan patriotisme mu, bukan hanya pada saat nonton Thomas dan Uber Cup saja, tapi disetiap tarikan nafas kalian. Karena tanah air ini adalah milik kita. Kali ini, saya yang menggugat !!

Bener ga seh??     

 

 

Categories: Uncategorized

Catatan Umrah 2008 #06

May 26, 2008 · Leave a Comment

Mekkah 30 april 2008 Pkl 22.05

Selesai sholat Isya dan makan malam di hotel, kami bersiap untuk segera melakukan ritual ibadah umrah. Namun sebelumnya Ustadz Gusrizal menjelaskan tentang tatacara umrah mulai dari Thawaf, Sa’i hingga Tahallul. ‘Bagi kaum lelaki di sunnat kan memperlihatkan bahu kanan nya dengan cara menyampirkan kain ihram sebelah kanan kebahu kiri, serta bila memungkinkan nanti pada tiga putaran pertama hendaknya kita bertawwaf dengan berlari lari kecil, demikianlah Rasulullah melakukan thawwaf, jelas Ustadz Gusrizal.

Diceritakan pula, sewaktu Rasulullah beserta para sahabat hendak masuk kota Mekkah, mata mata kaum musyrikin memberitakan bahwa rasul beserta sahabat telah kelelahan teramat sangat sehingga dapat diganggu kembali agar tidak jadi melakukan ibadah umrah. Namun dengan ijin Allah, Rasulullah tau akan hal itu, maka Ia perintahkan agar semua sahabat yang laki laki harus menunjukan kekekaran dan keperkasaan nya dengan cara  menyibakkan kain ihram ke bahu sebelah kiri, hingga terlihat kekekaran tangan dan bahu sebelah kanan. Serta harus tak ada seorangpun yang boleh menunjukkan kelelahan sedikitpun ditunjukkan dengan cara berlari lari kecil sewaktu melakukan thawwaf. Melihat kejadian itu, semua kaum musyrikin terperangah, takut dan bersegera meninggalkan ka’bah tanpa berani sedikitpun mengganggu rasul beserta sahabat. Selesai putaran ke tiga thawwaf, sudah tidak ada seorang pun kaum musyrikin di seputaran ka’bah, lalu rasulullah memerintahkan sisa putaran cukup dengan berjalan saja.

Suasana dipelataran ka’bah terasa penuh sesak, layaknya musim haji. Jangankan untuk berlari lari kecil, berjalanpun sudah berdesak desakan. Tapi saya sendiri merasakan justru dengan berdesak desakan itu, tawwaf terasa lebih khusyuk. Kita bagai terombang ambing dilautan manusia, nikmat sekali, berputar kita dan terus berputar melawan arah putaran jam. Mengenang kita akan masa lalu, semua waktu berjalan mundur, terus kebelakang hingga bayangan dosa dosa dan kehilafan masa lalu terekam dengan jelas seperti film lama yang diputar ulang. Dan sekarang dihadapan Allah kita berada, tak ada satupun yang luput dari pandangan nya. Didepan Multadzam aku bermunajat,  “ya rabb bukankah ampunan mu lebih besar jauh melebihi seluruh dosa dosa hamba mu yang ada diseluruh galaksi ini, maka terimalah taubat hamba, jangan engkau palingkan wajah mu meski hanya sekejap hingga waktu menjemputku untuk dapat bersatu dengan orang orang yang engkau ridhoi”.

Selesai tawwaf, saya sekeluarga sholat sunnat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Bang Luthfi dan Farras menyempatkan sejenak melihat  jejak kaki Nabi Ibrahim sewaktu Beliau merenovasi Ka’bah berserta putra nya terkasih, Ismail.

Segelas zam zam yang kureguk memberikan energy yang sangat luarbiasa, hilang sudah kelelahan seharian ini. ” Pa, foya foya zam zam nih kita, canda Farras sambil mengguyurkan air zam zam dingin kekepala nya. Kalo diIndonesia, kita minumnya cuma se emprit, segelas kecil saja, tapi tadi si abang malah wudhu pake zam zam pulak, Pa”, ujarnya sambil tersenyum.

Zam zam memang sangat istimewa. Disalah satu artikel majalah yang saya baca di pesawat Garuda sewaktu berangkat kemarin, seorang peneliti menunjukkan foto struktur molekul zam zam, sungguh sangat sempurna, bentuknya bagaikan susunan permata yang teramat indah. Namun bila kita mengingat bagaimana perjuangan nenek kita Siti Hajar, manakala harus bolak balik sebanyak 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit marwah (Prosesi Sa’i) untuk mencarikan seteguk air buat Ismail, anak yang penuh ia kasihi, terkadang malu juga saya dibuatnya.  Bayangkan untuk mendapatkan apa yang diharapkan harus usaha keras, berlari lari dari shafa ke marwah, 7 kali, ga berhenti, ga ada putus asa. Lha kita ? baru 2 kali ditolak pelanggan manakala nawarin produk saja langsung keok, kesel, mangkel. “Nenek Siti Hajar, kenapa semangat juang mu tidak engkau turunkan pada kami, anak cucu mu”? meski kami tau, zam zam itu sendiri engkau dapatkan bukan karena engkau bolak balik shafa- marwah 7 kali, tapi itu semata hanya karena pemberian dan kasih sayang Allah. 

Perjalanan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, buat abang Luthfi dan Farras dirasa sangat berat. Bukan hanya karena total jarak hampir 3 Km yang harus ditempuh sambil berdesak desakan, tapi kondisi Shafa-Marwah saat ini memang dirasa kurang nyaman, tidak seperti tahun lalu, dimana udara AC terus berhembus, sekarang debu beterbangan, suara bising dari pembangunan perluasan area masjid terasa sangat mengganggu dan kita tidak bisa melihat Ka’bah dari bukit Shafa sekalipun, karena terhalang ada tembok sementara untuk pekerjaan perluasan masjid. Meski sempat beberapa kali berhenti untuk mengaso sejenak, akhirnya tuntas juga Sa’i ini ditutup dengan Tahallul, menggunting rambut, sebagai akhir dari prosesi ibadah umrah. ’kami datang dari negeri yang jauh ya rabb, maka Terimalah ibadah kami, terimalah umrah kami, ampuni segala dosa kami, perkenankanlah doa kami’.    

Categories: Religi

Catatan Umroh 2008 #05

May 22, 2008 · 6 Comments

Mekkah, 30 April 2008 Pkl 17.45

Bus yang kami tumpangi tepat pkl 17.45 tiba didepan Hotel Huda Karim, sekitar 400 meter dari Masjidil Haram. Karena Magrib sudah hampir menjelang, bersegera kami menuju Masjidil Haram, masjid dimana dijanjikan fadillah 100ribu kali lipat dibandingkan dengan sholat di mesjid tanah air. Karena perjalanan darat hampir 480 km cukup melelahkan, Ustadz Gusrizal, menyarankan agar kami memulai ritual umrah setelah sholat Isya saja, bersama sama.

Begitu keluar hotel, debu banyak beterbangan. Mekkah saat ini memang tengah berbenah. Puluhan hotel dan pertokoan diseputaran Masjidil Haram telah diratakan dengan tanah. Mulai dari Sofitel hotel yang berada tepat didepan Pintu Marwah, Pasar Seng, hingga terus kedepan, semua sudah bersih. Konon, tempat tersebut akan menjadi area pelebaran Masjidil Haram, dimana pada setiap musim haji Masjid kebanggan umat Islam tersebut sudah tidak mampu lagi untuk menampung jutaan jama’ah yang datang untuk beribadah.

Debu yang beterbangan, menusuk hidung, ternyata tak mampu untuk mencegah ribuan jamaah yang berjalan menuju Masjidil Haram, semua memiliki tujuan yang sama, mencari ridho Allah. Langkah demi langkah, hingga akhirnya terlihat juga kemegahan masjid yang sungguh indah dan mempesona itu. Hati ini terus saja bergetar, kami masuk dari pintu utama, King Abdul Aziz Gate, pintu 1.

Saya, Istri, Bang Luthfi dan Farras, saling bergandengan tangan, erat sekali. Jantung ini berdegup lebih kencang rasanya, manakala Ka’bah telah dapat kami pandang. Mata ini terasa mengabur, butiran airmata luruh, tak mampu kami cegah. Airmata para pendosa yang berharap belas kasih Illahi. Saya dan kedua anak ku memilih tempat dipelataran thawwaf. Sementara istri ku harus sholat ditempat terpisah, dibagian wanita yang telah disediakan.

Imam Abdurrahman As-Sudais membacakan surat tentang hari kiamat, Surat Al-Qaari’ah, dengan suara yang bergetar setelah Al-Fatihah dirakat 1, dan  terisak ia makala membacakan Surat At-Takasur pada rakaat ke 2. “Bermegah megahan telah melalaikan kita, dan kelak kita akan ditanyai tentang kenikmatan yang kita megah megahkan didunia ini”.

Selesai sholat Magrib, tak hendakaku beranjak. Aku masih merenungkan 2 surat yang dibacakan Imam besar Masjidil Haram tadi. Tubuh ini terasa menggigil, mengingat setiap nikmat yang telah ku kecap serta kemewahan yang telah kureguk didunia ini. Benarkah telah kudapatkan dengan jalan yang benar, benarkah telah ku gunakan dijalan Allah? “manakala telah datang hari kiamat, dan timbangan amal buruk ternyata lebih berat dari amal baik, Neraka Hawiyah lah tempat kembali. Siapakah yang tak kan bergetar hatinya mendengar peringataan  itu?

Ya Rabb, kasihanilah kami, karena kami tau, kami tak kan mampu menahan api yang sangat panas itu.

 

 

 

 

Categories: Religi

Tuntutlah ilmu hingga ke Jl Asemka…

May 15, 2008 · 4 Comments

Tidak seperti biasanya bila selesai ngikutin kursus, sesampai dirumah selalu saja istri ku berkomentar ‘payah, jaman sekarang, kita udah bayar mahal, jauh jauh datang, eh tetep aja cake black forest yang saya bikin ga seenak yang dibikin ama guru nya. ‘padahal pa’, takaran gula, mentega, terigu, telor, coklat dan assesoris lain nya persis sama dengan takeran yang diajarin, koq ya bisa ga selegit yang diajarin ya pa’? gerutu nya pada ku. “Jangan jangan si Tachi itu masih saja nyimpen jurus istimewa nya yang ga diajarin ke kami, para peserta. ‘Dasar..!, guru koq masih ga ikhlas nyebarin seluruh ilmu ke para murid nya, omel nya setengah su’udhzon.

Tapi kali ini, lain. Begitu pulang dari Asemka untuk ikutan kursus bikin assesoris dari manik manik kristal, istri ku full senyum. Ada rasa bangga dari nada ceritanya, ‘ liat pa, ini hasil kreasi ku sendiri lho, bonsai dari manik manik, cantik kan? ujar nya sembari memamerkan hasil karya nya seharian berguru di pasar Asemka sana. ‘Coba, ini bunga lavender, mawar, dan bros berbentuk capung, cute banget kan?. ‘Baru kali ini saya ikut kursus yang paten, ga nyesel buang waktu seharian’. Guru nya sabar banget tuh ngajarin nya, ga bayar lagi, asal manik manik nya beli dari toko dia.

Emang banyak yang ikutan belajar disana ma ?, tanya ku asal. Bukan cuma rame tapi ruame buanget. ‘Coba pa, siapa yang ga tertarik’, ‘kita cuma beli bahan nya dari toko si tante, nah setelah itu kita diajarin merangkai nya, mau bentuk bunga, bonsai, jepit rambut atau apapunlah, semua dia ajarin’. ‘Terus, kalo kita belum juga mahir, besok besok kita boleh dateng lagi, belajar sampe bisa. ‘Hebat kan pa , ada toko seperti itu? ‘Ya hebat, hebat banget bahkan ma, ujarku sambil manggut manggut.

Strategy marketing yang diajarkan si tante di pasar Asemka sana, bukanlah hal yang lumrah dilakukan oleh para penjual perlengkapan assesoris. Terobosan baru bahkan. Konon kabarnya meski dikelelilingi toko sejenis, namun tetap ibu ibu hanya ngantri di toko si tante saja dan tidak ditoko yang lain. Mengapa? karena ada value yang diberikan. Ibu ibu diajarin cara merangkai dan membuat assesoris hingga mahir. Tidak ada sedikit pun kehwawatiran dari diri si tante akan tersaingi oleh para ibu yang menjadi murid nya. Dan terbukti, para ibu yang belanja di toko si tante, adalah para murid yang sempat ngelmu disana. mereka menjadi customer yang setia di toko si tante. 

Ilmu yang sama, juga saya dapetkan dari mantan Direktur Telkom, bpk Suryatin. Tadi malam beliau sharing tentang bagaimana upaya salah satu operator GSM mengedukasi anak muda agar bisa bikin film sendiri, mulai dari ilmu dasar bagaimana menggunakan handycam ataupun video camera  HP, mengeditnya , dubbing suara, hingga mengupload nya ke situs internet. Semua diajarkan. Upaya ini dilakukan rutin oleh operator GSM tersebut, bertahap hingga ke seluruh Indonesia. Apa tujuan nya? jelas, selain agar anak muda Indonesia jadi kian kreatif dalam mengaktualisasikan diri, juga dan sudah barang tentu produk broadband dari operator tsb akan menancap dibenak para peserta. Ujung ujung nya tentu usage broadband dari operator tersebut kedepan akan boom, meningkat pesat. Smart kan?

Dipojok ruangan, tergantung Kontrak manajemen saya, semua masih berwarna merah untuk item sales seluruh sejenis produk. Kiranya besok pagi, saya pun juga harus belajar dari si tante di pasar Asemka sana…  

 

Categories: Bizz Corner

Catatan Umroh 2008#04

May 9, 2008 · 2 Comments

Zulhulaifah/Bier Ali, 30 April 2008, Pkl 10.45

Telah ku tanggalkan pakaian dunia yang kerap membungkus kesombongan ku, tak ada lagi yang kupakai selain dua lembar kain ihram putih yang dijahit pun tidak. Bang Luthfi (14 thn), anak tertua ku mula nya protes, kenapa sampe celana dalem nya pun harus dia copot. ‘Ga enak banget e pa, ga nyaman aku, kalo ketiup angin kainnya, kan bisa malu abang pa’, protes nya pada ku. ‘ Masa sih pa, ada orang mau membanggakan diri nya dengen merk celana dalem yang dia pake’? ‘ga make sense’, protes nya kian keras.

‘Bang, kenapa pulak abang harus malu, semua orang melakukan hal yang sama’, jelas ku. ‘Kalo kita sudah melepas pakaian kita dan menggantikan nya dengan hanya dua lembar kain tak berjahit, bukan kah ini suatu pelajaran buat kita bang, bahwa Allah pengen kita semua belajar, bahwa siapapun kita semua sama di mata tuhan’. Presiden pun kalo ber ihram juga kain nya sama, ga berjahit. artis juga begitu, direktur juga, tukang sapu pun sama. Ini juga pelajaran buat kita bang, entar kalo kita meninggal, kita juga ga pake yang macem macem, selain kain kafan yang cuma beberapa lembar saja. jelas ku meyakinkan. Cuma itu yang kita bawa ke alam kubur, tentu nya beserta amal baik dan amal buruk yang kita lakukan sepanjang hidup yg terbawa serta. selain itu ga ada, semua kita tinggalkan didunia.

Abang ikhlas saja, ga lama koq, entar kalo kita udah tahalul, Bang Luthfi boleh lagi koq pake jeans kesayangan mu itu. ‘Oh, jadi cuma sebentar itu aja pa’? tanya nya masih penasaran. ‘ Iya cuma sebentar itu aja koq’, namun yang penting meski hanya sebentar kita harus tetep ngambil pelajaran dari setiap tahapan umroh kita bang. ‘Kalo, cuma sampe tahalul, kecil itu pa’, ‘abang pikir sampe kita pulang ke Indonesia ga pake celana dalem, kan bisa repot pa’, ujar nya kini dengan senyum terkembang.

‘Labbaika Allahuma Umrohtan’, Ya Robb kami datang memenuhi panggilan Mu untuk ber umrah. Bulat sudah tekad kami, ikhlas sudah semua yang akan kami lakukan, hanya untuk Mu ya Allah kami ber umrah. Kami tidak berharap apa apa selain ridho Mu semata ya Rabb.

Selesai sholat sunnat ihram di mesjid Bier Ali, kami kembali ke Bus yang sudah menunggu. Talbiyah pun bergema, asma Allah pun disebut, dzikir pun tak pernah ter putus hingga tiba di Mekkah 4 jam kemudian.

Categories: Religi

Catatan Umroh 2008#03

May 8, 2008 · 3 Comments

Madinah, 30 April 2008

Saya masih inget apa yang diucapkan farras (10 thn), anak ku, kemarin. ’Pa, rumah Rasulullah koq sempit banget ya pa?’, tadi nya Arras pikir yang namanya Rasulullah pasti rumah nya gede banget, tempat tidurnya besar, dari emas, dan ada banyak kamar dirumah nya, terus ada karpet tebel, empuk lagi, kalo kaki kita nginjek langsung mblesek. Tapi ternyata Rasulullah, rumah nya kalah mewah dari rumah kita ya?, lanjutnya lagi. Padahal Rasulullah kan seperti Presiden kan pa? tanya nya lagi. Aku sementara diam. Terus, coba papa intip kedalem itu, sembari dia tunjuk kedalam makam yang dulunya menjadi rumah rasulullah, gelap, ga ada lampu, ga pake AC lagi, pasti Rasulullah dulu selalu keringetan ya pa, oceh nya lagi sambil coba melongok kedalam manakala kami melintasi makam Rasulullah sebelum keluar pintu mesjid.

Arras pikir, Rasulullah itu ya kebangetan juga ya pa, presiden koq tinggal nya digubuk seperti itu. Lha kalo beliau terima tamu, masa’ duduk nya dipasir ya pa, lanjut nya lagi mulai ngelantur. Papa inget ga waktu kemaren kita jalan jalan ke Pondok Indah, atau itu, tetangga kita di Kemang Pratama Regency, rumah nya besar besar. Arras berani bertaruh kamar nya pasti ada banyak, terus kamar mandinya pun pasti lebih besar dari rumah nya Rasulullah. lha wong, Arras liat di garasinya aja ada 4 mobil mewah. kenapa sih pa, Rasulullah sesederhana itu?

Jujur, sulit buat saya untuk menjawab pertanyaan anak 10 tahun, yang dialam pikiran nya adalah kalo yang namanya pejabat pasti berlimpah dengan kemewahan, tapi tidak dengan Baginda Rasulullah. ‘hm, ya itulah junjungan kita dek, nabi muhammad sebetulnya ga semiskin yang adek pikir’, bahkan sebelum menjadi nabi, baginda rasul itu pengusaha besar lho dek, konglomerat. Kalo adek baca sejarah nabi, dari kecil pun beliau udah jualan sampe ke luar negeri bersama om nya. Adek tau kan Siti Khadijah, nenek kita itu jatuh cinta ama muhammad karena nabi kita itu pinter dagang, bisnis nya untung selalu, tapi hebatnya kejujuran dalam berbisnis tetep jadi kode etik. Beda ama konglomerat jaman sekarang dek, ngemplang triliyunan pun mereka masih ga malu. Arras tersenyum, ngangguk ngangguk, entah ngerti entah enggak.

‘Semua harta rasulullah digunakan untuk berjuang dek, berjuang dijalan Allah’, jelas ku lebih lanjut. Beliau tau bahwa harta dunia ga ada gunanya ditumpuk tumpuk. Adek pernah denger sahabat rasul yang namanya Utsman bin Affan, tanya ku. Beliau adalah konglomerat besar dek, duit nya banyak banget. Tapi semua kekayaan nya malah diberikan semua ke rasul untuk digunakan membela Islam. 

“Koq bisa ya pa, orang seperti itu?’, tanya farras seperti tidak percaya. Arras jadi malu pa, inget kemarin sebelum kita berangkat, pas pulang sekolah ada temen ku ga bawa duit jajan, terus mau pinjem 1000 ke Arras untuk beli minum, tapi ga Arras pinjemin. Arras dosa ya pa, ujarnya penuh penyesalan. Nanti kalo pulang dari sini, Arras mau bawain dia zam zam ama kurma, mudah mudah an dia mau terima dan mau maafin adek ya pa, ujar nya sungguh sungguh. Arras malu sama Rasul, duitnya habis untuk para sahabat nya, sampe rumah nya pun ga sempet dia betulin.

Ada yang tak mampu aku tulis disini, aku begitu terharu mendengar kesungguhan anak ku. Karena aku juga tau, begitu banyak orang yang butuh pertolongan ku, tapi aku tak begitu peduli pada mereka. Duhai Sang Maha Kaya beri aku kesempatan lagi…. 

Categories: Religi

Catatan Umrah 2008 #02

May 7, 2008 · 2 Comments

Jeddah, 27 april, Pkl 19.00 WSA

Alhamdulillah, setelah terbang lebih dari 9 jam, akhir nya pesawat Garuda yang kami tumpangi mendarat dengan sempurna, kulirik jam tangan ku, pkl 23.00 WIB, karena selisih waktu 4 jam, itu berarti di Jeddah pkl 19.00. capek banget rasanya, betis dan pinggang terasa kaku. Namun setelah melewati petugas imigrasi, lenyap sudah kelelahan yang teramat sangat. karena di pesawat belum sempet magrib, di Masjid KAA airport kami lakukan sholat jama taqkhir qasar. Wudhu yang membasuh tubuh ku, bagai menghapus beban yang berkecamuk didalam diri, lega, sungguh lega akhirnya aku bisa kembali ke negeri para Nabi. 

‘Tidak ada cerita yang menarik tentang kota Jeddah dijaman Rasulullah’, jelas Ustadz Gusrizal pembimbing rohani kami pada saat kami sudah berada didalam bis menuju kota Maddinah. Jeddah, dulunya adalah jalur alternatif para kabilah Arab yang ingin berniaga ke wilayah Syam. Jalur pesisir ini dulunya ditemukan karena beberapa orang kaum muslimin yang tertangkap di Maddinah harus dikembalikan ke kota Mekkah, karena Rasulullah terikat perjanjian Hudaibiyah yang dirasa sangat merugikan kaum muslimin. Sahabat yang tidak mau dikembalikan ke Mekkah, didalam perjalanan akhirnya ada juga yang berhasil mengelabui pengawal kafir Quraisy, dan melarikan diri, hingga ke Jeddah. Demikian cerita singkat tentang kota Jeddah. ‘Sekarang lebih baik kita istirahat’, saran Ustadz Gusrizal, karena jarak yang harus ditempuh 480 Km, itu berarti butuh sekitar 5 jam lagi kami akan tiba di Maddinah.

 

29 April 2008, Pkl 02.00,

Dari Kejauhan nampak menara menara cantik masjib Nabawi, dihiasi dengan lampu sedemikian benderangnya. Hati ini tak sabar lagi untuk segera kesana. Bus yang kami tumpangi berhenti didepan Hotel Dallah Thoyibah, hanya 200 meter didepan masjid Nabawi. Berbeda dengan Masjidil Haram yang dibuka 24 jam, Masjid Nabawi baru dibuka pkl 03.00, sehingga kami masih punya waktu untuk istirahat sejenak.

Assalamualaika ya Rasulullah, Assalamualaika ya Habibullah. Terima kasih ya Allah, engkau beri aku kesempatan lagi untuk bersujud dihadapan Mu, dimasjid dimana engkau menjanjikan fadillah yang sangat luarbiasa, 1000 kali lipat dibandingkan sholat di mesjid Istiqlal sekalipun. Lihatlah, lutut ku terasa gemetar, dan saksikanlah airmata ini mengalir begitu saja. Kerinduan ku pada Mu tak kan pernah terucap dengan syair maupun kata kata. Dalam diam ku , aku tau, Engkau tahu ya Allah bahwa syukur ku teramat sangat. Dan sekarang aku membawa dua putra ku tercinta, Luthfi dan Farras datang menghadap Mu, ya Rabb. Kami datang anak beranak, berharap belas kasih Mu, karena tak ada yang patut kami banggakan dihadapan mu ya Allah, karena kami memang tak punya apa apa. kami papah, ya Allah… 

Selesai sholat subuh, kami tak hendak segera kembali ke hotel, namun kami ingin sekali berkesempatan sholat di Raudah, tempat mustajab dimana doa akan di ijabah dan tempat yang kelak akan menjadi taman surga, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah. Setelah menanti dengan penuh kesabaran, Alhamdulillah, Allah memberikan kesempatan itu pada kami, hingga kembali airmata ini mengalir begitu saja.

‘Pa, ternyata rumah Rasulullah sangat sempit dan sangat sederhana ya?’, tanya Farras, anak ku, ketika kami melintas didepan makam Rasulullah beserta dua sahabat, Abu Bakar Ashidieq dan Umar bin Khatab. ’Iya nak, rumah rasulullah sangat sederhana, rumah kita jauh lebih mewah, tapi Rasulullah amat sangat bersyukur pada Allah, sedang kita yang diberi banyak kenikmatan dan kemewahan masih seringkali lalai ya nak’, ujar ku sambil menghapus airmata dengan punggung tangan ku.

Maka Ampunilah aku Ya Ghofur… 

Categories: Religi

Catatan Umrah 2008 #01

May 6, 2008 · 2 Comments

Minggu 13 april 2008

Pengurusan administrasi perjalanan Umrah kali ini sedikit lebih ribet dibandingkan dengan tahun tahun sebelumnya. Sekarang setiap jamaah yang harus berangkat harus disuntik vaksin Meningitis dan untuk pengurusan Visa konon kabarnya perlu mencantumkan ‘Kartu Kuning’. Ini aturan baru Pak, jelas Novi, Staf travel agent yang mengurusin keberangkatan ku beserta keluarga. 

Meski berat hati, terpaksa saya dan keluarga harus menghubungi dokter di bandara yang direkomendasikan. Begitu tiba di poliklinik yang ditunjuk, saya kaget sekali, ternyata sudah banyak calon jamaah yang sudah mengantri. Dan yang membuat saya lebih kaget lagi, adalah para calon jamaah menumpahkan kekecewaan nya dengan memaki maki petugas, yang ternyata tidak siap dengan vaksin nya. ‘ kami mohon maaf tidak bisa melayani bapak/ibu hari ini karena vaksin meningitis nya belum dikirim dari pusat’ ujar petugas penuh rasa bersalah. ‘ inilah, Indonesia”, bentak seorang calon jamaah, bikin peraturan seperti orang diare, begitu buang angin langsung brujul’, mbok disiapin dulu dong mbak, lha ini besok pagi saya mau berangkat, apa perjalanan harus tertunda gara gara anda tidak bisa menyiapkan vaksin yang anda buat sendiri peraturannya? tanya nya kian kritis.

saya, istri dan anak anak tersenyum saja. kiranya belum berangkatpun kita sudah diuji kesabaran. Ya Rabb, berikanlah kesabaran pada kami, karena kami ingin sekali dihari perhitungan nanti, kami akan datang pada Mu bersama orang orang yang engkau Kasihi lagi engkau Sayangi. 

27 April 2008, pkl 13.45

Pesawat Garuda Indonesia, take off meninggalkan Bandara Soekarno Hatta. Kutinggalkan Jakarta dengan segala yang kumiliki, tak ada yang kubawa dalam perjalanan umrah ini, kecuali gelimang dosa dan khilaf yang telah aku lakukan selama ini. Ya Rabb, bila selama ini aku masih juga lalai dalam memegang amanah mu sebagai pemimpin, maka ampunilah aku, karena ternyata tak mudah untuk membahagiakan semua staff ku, bahkan ada diantara mereka merasa ada yang aku dzalimi. Bila tanpa belas kasih mu ya Allah, alangkah malang nya diri ini meratapi nasib yang tak pernah merasakan harumnya surga Mu. Karena aku tau pemimpin yang lalai sungguh akan banyak yang harus dipertanggungkan dikala hari perhitungan kelak. 

Ya Allah, diketinggian 8000 kaki diatas permukaan laut, menetes airmata ku bila mengingat kesombongan ku melata diatas bumi Mu.  Aku, makhluk Mu yang tak punya arti di hadapan Mu, seringkali congkak, memamerkan apa saja yang aku miliki. Namun diluar jendela, kuintip, tak ada satu pun yang bisa lagi kulihat. Tidak juga istana, pencakar lagit, ataupun deru mobil keluaran terbaru. Tidak ada ! yang kulihat hanya milik Mu, langit biru dibalut gumpalan awan memutih serta cahaya mentari yang terasa lebih benderang dari biasanya.

Labaik Allahuma labaik, kami datang ya Allah memenuhi panggilan mu. Hamba Mu yang hina ini, kali datang bersama istri dan anak anak hamba. Tak ada yang mampu aku ucapkan, hanya tetes airmata yang mungkin bisa mengurai bagaimana rindu kami pada Mu memuncak, hingga memang tak ada yang pantas kami ucapkan. Ya Rabb, kami datang dari negeri yang jauh, bila tanpa kasih Mu, bagaimanalah mungkin kami bisa bercengkerama mesra di baitullah bersama Mu.

Tak sabar aku menunggu, kapan pesawat ini akan landing di Airport King Abdul Aziz, Jeddah..

Categories: Religi