Mekkah 30 april 2008 Pkl 22.05
Selesai sholat Isya dan makan malam di hotel, kami bersiap untuk segera melakukan ritual ibadah umrah. Namun sebelumnya Ustadz Gusrizal menjelaskan tentang tatacara umrah mulai dari Thawaf, Sa’i hingga Tahallul. ‘Bagi kaum lelaki di sunnat kan memperlihatkan bahu kanan nya dengan cara menyampirkan kain ihram sebelah kanan kebahu kiri, serta bila memungkinkan nanti pada tiga putaran pertama hendaknya kita bertawwaf dengan berlari lari kecil, demikianlah Rasulullah melakukan thawwaf, jelas Ustadz Gusrizal.
Diceritakan pula, sewaktu Rasulullah beserta para sahabat hendak masuk kota Mekkah, mata mata kaum musyrikin memberitakan bahwa rasul beserta sahabat telah kelelahan teramat sangat sehingga dapat diganggu kembali agar tidak jadi melakukan ibadah umrah. Namun dengan ijin Allah, Rasulullah tau akan hal itu, maka Ia perintahkan agar semua sahabat yang laki laki harus menunjukan kekekaran dan keperkasaan nya dengan cara menyibakkan kain ihram ke bahu sebelah kiri, hingga terlihat
kekekaran tangan dan bahu sebelah kanan. Serta harus tak ada seorangpun yang boleh menunjukkan kelelahan sedikitpun ditunjukkan dengan cara berlari lari kecil sewaktu melakukan thawwaf. Melihat kejadian itu, semua kaum musyrikin terperangah, takut dan bersegera meninggalkan ka’bah tanpa berani sedikitpun mengganggu rasul beserta sahabat. Selesai putaran ke tiga thawwaf, sudah tidak ada seorang pun kaum musyrikin di seputaran ka’bah, lalu rasulullah memerintahkan sisa putaran cukup dengan berjalan saja.
Suasana dipelataran ka’bah terasa penuh sesak, layaknya musim haji. Jangankan untuk berlari lari kecil, berjalanpun sudah berdesak desakan. Tapi saya sendiri merasakan justru dengan berdesak desakan itu, tawwaf terasa lebih khusyuk. Kita bagai terombang ambing dilautan manusia, nikmat sekali, berputar kita dan terus berputar melawan arah putaran jam. Mengenang kita akan masa lalu, semua waktu berjalan mundur, terus kebelakang hingga bayangan dosa dosa dan kehilafan masa lalu terekam dengan jelas seperti film lama yang diputar ulang. Dan sekarang dihadapan Allah kita berada, tak ada satupun yang luput dari pandangan nya. Didepan Multadzam aku bermunajat, “ya rabb bukankah ampunan mu lebih besar jauh melebihi seluruh dosa dosa hamba mu yang ada diseluruh galaksi ini, maka terimalah taubat hamba, jangan engkau palingkan wajah mu meski hanya sekejap hingga waktu menjemputku untuk dapat bersatu dengan orang orang yang engkau ridhoi”.
Selesai tawwaf, saya sekeluarga sholat sunnat 2 rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Bang Luthfi dan Farras menyempatkan sejenak melihat jejak kaki Nabi Ibrahim sewaktu Beliau merenovasi Ka’bah berserta putra nya terkasih, Ismail.
Segelas zam zam yang kureguk memberikan energy yang sangat luarbiasa, hilang sudah kelelahan seharian ini. ” Pa, foya foya zam zam nih kita, canda Farras sambil mengguyurkan air zam zam dingin kekepala nya. Kalo diIndonesia, kita minumnya cuma se emprit, segelas kecil saja, tapi tadi si abang malah wudhu pake zam zam pulak, Pa”, ujarnya sambil tersenyum.
Zam zam memang sangat istimewa. Disalah satu artikel majalah yang saya baca di pesawat Garuda sewaktu berangkat kemarin, seorang peneliti menunjukkan foto struktur molekul zam zam, sungguh sangat sempurna, bentuknya bagaikan susunan permata yang teramat indah. Namun bila kita mengingat bagaimana perjuangan nenek kita Siti Hajar, manakala harus bolak balik sebanyak 7 kali dari Bukit Shafa ke Bukit marwah (Prosesi Sa’i) untuk mencarikan seteguk air buat Ismail, anak yang penuh ia kasihi, terkadang malu juga saya dibuatnya. Bayangkan untuk mendapatkan apa yang diharapkan harus usaha keras, berlari lari dari shafa ke marwah, 7 kali, ga berhenti, ga ada putus asa. Lha kita ? baru 2 kali ditolak pelanggan manakala nawarin produk saja langsung keok, kesel, mangkel. “Nenek Siti Hajar, kenapa semangat juang mu tidak engkau turunkan pada kami, anak cucu mu”? meski kami tau, zam zam itu sendiri engkau dapatkan bukan karena engkau bolak balik shafa- marwah 7 kali, tapi itu semata hanya karena pemberian dan kasih sayang Allah.
Perjalanan dari Bukit Shafa ke Bukit Marwah, buat abang Luthfi dan Farras dirasa sangat berat. Bukan hanya karena total jarak hampir 3 Km yang harus ditempuh
sambil berdesak desakan, tapi kondisi Shafa-Marwah saat ini memang dirasa kurang nyaman, tidak seperti tahun lalu, dimana udara AC terus berhembus, sekarang debu beterbangan, suara bising dari pembangunan perluasan area masjid terasa sangat mengganggu dan kita tidak bisa melihat Ka’bah dari bukit Shafa sekalipun, karena terhalang ada tembok sementara untuk pekerjaan perluasan masjid. Meski sempat beberapa kali berhenti untuk mengaso sejenak, akhirnya tuntas juga Sa’i ini ditutup dengan Tahallul, menggunting rambut, sebagai akhir dari prosesi ibadah umrah. ’kami datang dari negeri yang jauh ya rabb, maka Terimalah ibadah kami, terimalah umrah kami, ampuni segala dosa kami, perkenankanlah doa kami’.