Davik Oktavian’s Weblog

Entries from June 2008

2020

June 27, 2008 · 15 Comments

Dulu, bila kekantor ku di Kebon Sirih, perlu waktu 1,5 jam. Tapi kini dari Bekasi ke kantor hanya sepeminum teh saja, jalanan lengang, tidak ada kemacetan sama sekali. Setiba di Kantor, tak lagi kutemukan banyak karyawan diruangan, entah kemana mereka. Hanya ada beberapa orang saja, itu pun terlihat hanya sedang diskusi sembari menikmati secangkir capucinno hangat. Dari balik jendela kaca, sementara kulihat jejeran cafe diseberang jalan, ramai terlihat para eksekutif muda,  semua asyik dengan mini notebook yang tebalnya tak lebih dari kwarto 80 gram. Sesekali kepala nya bergoyang goyang mengikuti irama lagu yang baru direlease beberapa menit yang lalu, namun sudah bisa di download dengan hanya membayar tak lebih dari harga secangkir kopi.

Diruang kerjaku, aku merasa ada sesuatu yang hilang, kehangatan silaturahim, saling bersalaman bila bertemu rekan kerja sudah sangat jarang aku lakukan. Karena hampir semua rekan kerja ku sudah sangat tergila gila dengan bekerja dirumah, tanpa harus kekantor. Konon kabar nya Telecommuting yang menjadi trend saat ini, sudah dimulai oleh rekan rekan ku di Bandung menjelang millenium kedua. Mereka tak harus datang ke Geger Kalong, tapi cukup mampir ke base camp mereka di Antapani. Sebetulnya itu pun belum bisa disebut telecommuting, masih tahap semi telecommuting mungkin, karena konon kabarnya saat itu absensi ceklok masih layak dibutuhkan oleh Bagian SDM.

Disaat lamunan ku belum beranjak pergi, tiba tiba pintu ku diketuk, ’selamat siang bpk Davik, super supreme pizza nya telah datang, 20 dollar included tax, bapak mau bayar dengan cash atau dengan e-money?’ sapa pengantar pizza berseragam merah-hitam. ‘Tentu dengan e-money’, ujar ku. Masa sekarang bawa uang cash didompet sudah tidak lazim lagi, selain tidak praktis juga copet sudah beroperasi tidak hanya dalam bus kota, tapi disemua tempat yang dulu menurut kita tidak mungkin sekalipun. Ku tempelkan handphone ku ke alat chip reader yang selalu dibawa sang pengantar, dalam hitungan detik, transaksi is done.

Ku nikmati sepotong pizza yang masih hangat, sambil menonton berita meroket nya harga saham perusahaan yang berbisnis content yang dulu tidak pernah dilihat sebelah mata pun oleh para investor. Bling..bling.. dilayar tivi, Rara, gadis kecil ku yang telah beranjak dewasa muncul dengan senyum manis nya. ‘ Hayo,..Papa, maem pizza ya?’, sapa nya ramah dari rumah. ‘Inget pa, kolesterol nya”, ujarnya dengan wajah yang serius. “Pa, adek lagi ngerjain tugas nih pa, jelasin dong tentang mekanika teknik, pusing nih, keluhnya sambil mengigit gigit ujung ballpoint nya. Kuambil digital pen ku dari saku, diatas tablet, kujelaskan rumus rumus lengkap dengan coretan coretan gambar. gimana, jelas ngga? tanya ku. Dilayar tivi, kulihat Rara manggut manggut.    

Kuraih remote, kualihkan pandangan suasana di dapur, yang dapat kupantau dari kantor. Terimakasih Tuhan, engkau bantu para ilmuwan menemukan web camera. Ku zoom meja makan, aha, nanti malam menunya sambal ikan teri plus kacang, kesukaan ku. Ditaman belakang, kenari dan murai batuku tengah berkicau .

Adzan Dzuhur berkumandang,  segera ku off kan semua piranti digital ku, kulirik kalender di dinding, aha..! rupanya  kini telah tahun 2020. 

Note: Didongengkan setelah ikut sharing vision ‘New Wave telecommunication’ nya Mr Dimitri.

 

 

 

Categories: Uncategorized

Catatan umrah;(dibuang sayang..)

June 24, 2008 · 16 Comments

‘Hajibaba,…Fisabilillah, Hajibaba..Fisabilillah, Shodaqoh,..Fisabilillah’, kata kata itu sering terdengar di sepanjang jalan mulai dari samping Hilton terus hingga ke arah Misfallah shopping center. Kata kata yang menyayat hati, yang keluar dari mulut anak anak berkulit hitam, sebagian besar dari mereka hanya berlengan sebelah. wajah wajah nan lugu, dengan kepang rambut warna warni tak mampu sembunyikan kegundahan hati.

‘Apa mereka semua pencuri yang dipotong tangan nya, buya’? tanya Fadel (9thn) putra mbak Rita, sahabat ku dari Padang, kepada buya Gusrizal. “Fadel liat sebagian besar dari pengemis itu, cacat tangan nya”. ” Ya ngga dong Del, itu emang cacat bawaan dari lahir”. ‘Islam itu agama yang penuh kasih sayang, tidak boleh menyakiti orang lain’. ‘Bener sih di Arab Saudi ada hukum Qisash, tapi sebelum mereka dihukum, proses nya sangat panjang agar tidak terjadi salah hukum’, jelas Buya Gusrizal. ‘Di Jeddah, ada Mesjid Qisash namanya, untuk orang orang yang sudah sangat keterlaluan dan terbukti bersalah, dihari jum’at mereka dihukum dimesjid tersebut’. ‘Kasian banget ya buya’?’ iya sih, tapi kalo kita ngeliat kelakuan mereka yang sudah sangat merugikan masyarakat, hukuman itu pantas untuk mereka. dan yang lebih penting agar jadi pelajaran bagi orang lain agar tidak mengikutinya’.

“Kalo hukum Qisash diterapin di negara kita, asyik juga kali buya ya”?, ujar Bang Lutfhi. “Koq asyik”? tanya buya tak mengerti. ‘Ya asyik dong, ntar kalo dijalan kita bisa liat, bapak bapak yang pake jas dengan naik mobil camry terbaru, kalo tangan nya cuma sebelah, aha hampir bisa dipastikan dia koruptor”. Kalo udah gitu, yakin, ga ada yang mau korupsi di indonesia. kan malu dia, apalagi didahi nya di tatto, gue koruptor, makin seru kan buya. Buya cuma tersenyum, mendengar obrolan santai diruang makan Hotel Huda Karim, saat sarapan pagi bersama para ABG ( Luthfi(14), farras(10), Fadel(9) dan Denisha(13)

Selain pengemis yang berjajar didekat Hilton, sehabis subuh kegiatan yang paling asyik adalah hunting cendera mata, umumnya pedagangnya adalah kaum pendatang. Apalagi sejak Pasar Seng digusur, pedagang kaki lima nyaris terkonsentrasi di samping Hilton.  Barang dagangan yang mereka jual hampir sama semua, sajadah, tasbih, Abaya, sorban, peci, siwak, minyak wangi. Kehadiran para pedagang kagetan itu, hemat saya sih sangat membantu para tamu Allah. Apalagi kalo yang berangkat dengan modal Riyal pas pas an. soal kualitas sih ya lumayan aja lah untuk harga 10 riyalan. Kalo mau beli sajadah yang bagus atau Hiasan dinding yang indah tentu  belanja nya ke Museum, Hilton. 

Satu hal, yang saya lihat ada kesamaan antara pedagang kaki lima di Mekkah dengan yang ada di Indonesia adalah kekhawatiran mereka akan digaruk para Askar (Tibum nya Mekkah).  Kasihan juga liat mereka pontang panting mengamankan dagangan mereka bila ada razia. Sekali waktu bahkan istri saya sempet dibuat sangat merasa bersalah, karena selagi tawar menawar abaya, datang askar untuk merazia. Abaya yang ada ditangan istri saya ditinggal lari dengan kecepatan tinggi, sipedagang lenyap dengan sisa dagangan nya, sementara istriku celingukan karena abaya nya belum sempet dibayar. Kami berupaya mencari Si Arab, kasihan, dan dengan coba mencari cari hampir 1 jam akhirnya ketemu juga si arab penjual abaya itu. “Syukron..syukron..”, ujarnya tak henti henti. Orang Indonesia memang terkenal jujur di Tanah Haram sana.

Dalam hati saya berdoa, semoga tamu Allah yang datang ribuan mil dari negeri nya terutama yang dari Indonesia, tingkat kejujuran yang sangat luar biasa itu tetap terbawa sampai ditanah air. Bila sudah begitu, mungkin meski Qisash diterapkan tetap tak ada seorang pun yang dipotong tangan nya karena memang tidak ada seorangpun yang korupsi. Tak ada yang dicambuk karena memang tidak ada seorangpun yang mau menerima suap. Tak ada yang dirajam karena memang tidak seorang pun yang mau memfitnah saudara nya. Andai itu terjadi, alangkah nikmat nya bermukim dinegeri ini.

Tapi mungkin ngga seh?  

 

Categories: Religi

Monas

June 9, 2008 · 8 Comments

Akhirnya sampai juga cita cita saya untuk naik ke atas Monas, padahal setiap hari monumen yg pembangunan nya diprakarsai oleh Sang Proklamator dan diarsiteki oleh Soedarsono & Frederich Silaban itu saya lalui. Itu pun juga karena kebetulan saja karena  akan ada acara peresmian hotspot di area itu. Tau kah kawan, bahwa Monas yang megah itu ternyata tidak ada fasilitas telpon sama sekali? dan baru kemarin pemda  memberikan ijin ke Telkom untuk menyiapkan nya. Lucu juga, area Monas yang menjadi icon bukan hanya untuk kota Jakarta tapi juga Indonesia, bagai potret kecil dari suatu negeri yang masih terkebelakang. Berdiri tegakdiantara keramaian namun terisolir dari hiruk pikuk kemajuan zaman. itu mengapa, begitu pemda memberikan lampu hijau, bukan hanya line telpon yang bisa kita siapkan, tapi sekaligus fasilitas hotspot agar para pengunjung dapat menikmati bahwa ada dunia lain yang juga menarik untuk dinikmati, dunia maya.

Pengunjung yang datang ke monas rata rata sekitar 700 orang pada hari kerja dan meningkat hingga 5 kali lipat pada weekend dan hari libur. Umumnya yang datang adalah anak anak sekolah yang sedang berdarmawisata namun tidak sedikit turis asing yang datang untuk melihat sembrawut nya lalulintas Jakarta dari ketinggian 132 m, ujar Rafael, penanggungjawab Monas. 

Monas, seminggu terakhir ini memang menjadi pusat perhatian. Semua stasiun televisi, hampir setiap hari bahkan menjadikan nya sebagai berita utama. Namun bukan berita penggugah semangat seperti yang diharapkan oleh Bung Karno pada saat mencetuskan ide untuk membangun nya, namun justru berita perpecahan diantara anak bangsa. sedih, ironis memang.

Musuh besar negeri ini bukanlah siapa percaya pada siapa, tapi kemiskinan dan kebodohan yang menyergap jutaan anak bangsa . Bukankah sudah jelas Allah berfirman ‘Untuk mu agamamu, dan untuk ku agama ku’. Jangan kan kita manusia biasa, nabi pun hanya berkewajiban hanya untuk mengingatkan, perihal hidayah hanya dari Allah itu berasal. Bambu runcing, golok bahkan celurit sudah harus disimpan rapat. Pemikiran, serta kerja nyata untuk melawan kemiskinan dan kebodohan, itu justru yang diharapkan.    

Andai Bung Karno masih ada, saya yakin dia akan menangis. menangis untuk dua hal. menangis sedih karena antar umat selalu terjadi perpecahan dengan alasan apapun, serta menangis gembira karena diorama monas bukan hanya bercerita tentang sejarah masa lalu, namun kini juga sudah ada titik awal untuk menciptakan sejarah masa depan dengan dunia informasi yang siap diakses dari seluruh penjuru Monas.

Dipuncak Monas, kini saya merenung. Ada banyak hal yang harus kita kerjakan !

 

 

Categories: Uncategorized