Dulu, bila kekantor ku di Kebon Sirih, perlu waktu 1,5 jam. Tapi kini dari Bekasi ke kantor hanya sepeminum teh saja, jalanan lengang, tidak ada kemacetan sama sekali. Setiba di Kantor, tak lagi kutemukan banyak karyawan diruangan, entah kemana mereka. Hanya ada beberapa orang saja, itu pun terlihat hanya sedang diskusi sembari menikmati secangkir capucinno hangat. Dari balik jendela kaca, sementara kulihat jejeran cafe diseberang jalan, ramai terlihat para eksekutif muda, semua asyik dengan mini notebook yang tebalnya tak lebih dari kwarto 80 gram. Sesekali kepala nya bergoyang goyang mengikuti irama lagu yang baru direlease beberapa menit yang lalu, namun sudah bisa di download dengan hanya membayar tak lebih dari harga secangkir kopi.
Diruang kerjaku, aku merasa ada sesuatu yang hilang, kehangatan silaturahim, saling bersalaman bila bertemu rekan kerja sudah sangat jarang aku lakukan. Karena hampir semua rekan kerja ku sudah sangat tergila gila dengan bekerja dirumah, tanpa harus kekantor. Konon kabar nya Telecommuting yang menjadi trend saat ini, sudah dimulai oleh rekan rekan ku di Bandung menjelang millenium kedua. Mereka tak harus datang ke Geger Kalong, tapi cukup mampir ke base camp mereka di Antapani. Sebetulnya itu pun belum bisa disebut telecommuting, masih tahap semi telecommuting mungkin, karena konon kabarnya saat itu absensi ceklok masih layak dibutuhkan oleh Bagian SDM.
Disaat lamunan ku belum beranjak pergi, tiba tiba pintu ku diketuk, ’selamat siang bpk Davik, super supreme pizza nya telah datang, 20 dollar included tax, bapak mau bayar dengan cash atau dengan e-money?’ sapa pengantar pizza berseragam merah-hitam. ‘Tentu dengan e-money’, ujar ku. Masa sekarang bawa uang cash didompet sudah tidak lazim lagi, selain tidak praktis juga copet sudah beroperasi tidak hanya dalam bus kota, tapi disemua tempat yang dulu menurut kita tidak mungkin sekalipun. Ku tempelkan handphone ku ke alat chip reader yang selalu dibawa sang pengantar, dalam hitungan detik, transaksi is done.
Ku nikmati sepotong pizza yang masih hangat, sambil menonton berita meroket nya harga saham perusahaan yang berbisnis content yang dulu tidak pernah dilihat sebelah mata pun oleh para investor. Bling..bling.. dilayar tivi, Rara, gadis kecil ku yang telah beranjak dewasa muncul dengan senyum manis nya. ‘ Hayo,..Papa, maem pizza ya?’, sapa nya ramah dari rumah. ‘Inget pa, kolesterol nya”, ujarnya dengan wajah yang serius. “Pa, adek lagi ngerjain tugas nih pa, jelasin dong tentang mekanika teknik, pusing nih, keluhnya sambil mengigit gigit ujung ballpoint nya. Kuambil digital pen ku dari saku, diatas tablet, kujelaskan rumus rumus lengkap dengan coretan coretan gambar. gimana, jelas ngga? tanya ku. Dilayar tivi, kulihat Rara manggut manggut.
Kuraih remote, kualihkan pandangan suasana di dapur, yang dapat kupantau dari kantor. Terimakasih Tuhan, engkau bantu para ilmuwan menemukan web camera. Ku zoom meja makan, aha, nanti malam menunya sambal ikan teri plus kacang, kesukaan ku. Ditaman belakang, kenari dan murai batuku tengah berkicau .
Adzan Dzuhur berkumandang, segera ku off kan semua piranti digital ku, kulirik kalender di dinding, aha..! rupanya kini telah tahun 2020.
Note: Didongengkan setelah ikut sharing vision ‘New Wave telecommunication’ nya Mr Dimitri.
