‘Pa, malem ini kita mau kemana pa?’ tanya Bang Luthfi pada ku sebelum berangkat ke kantor pagi tadi. ‘Lho, emang kenapa bang?’, tanya ku balik. ‘Maen dong pa, masa’ malem tahun baru dirumah aja. ‘Papa liat deh, tetangga kita aja semua pada ga ada, mereka semua liburan keluar kota’. Masa’ kita cuma nonton tivi doang, protes nya. ‘Mbok kita maen kemana gitu, ke Ancol keq, ke Monas keq, pokoknya liat yang rame rame gitu lho pa. ‘Kita ga pernah lho liat pesta kembang api’. Sekali kali begadang kan boleh pa, rengek nya lagi.
‘Iya pa, kita ke Ancol aja pa, The Changcuters manggung pa’, aku kan fans nya ujar Farras memprovokasi abang nya. ‘Ga ah! papa mau jaga posko’, jawab ku sekena nya. ’Masa posko melulu sih pa, lebaran kemarin papa bilang kita ga bisa pulang kampung karena harus jaga posko, nah malem ini juga masa mesti jaga posko lagi, lagian kan kasihan saudara saudara kita yang berlibur kerumah, ga diajak kemana mana pa’. ‘please dong pa’, rayu nya lagi.
‘Gini aja bang, gimana kalo entar malem, kita minta mama bikin sate terus kita bakar jagung. Kita kan punya tenda, kita pasang aja dihalaman. Nah kalo sempet entar papa bisa joint, tawar ku. ‘Lagian jalanan pasti macet bang, kalo mau ke Ancol dari sore kita sudah harus berangkat’. ‘Ya udah, terserah papa aja deh’, ujar nya sambil cemberut meninggalkan ku diruang tamu.
Tahun baru selalu saja disambut dengan kegembiraan dan kemeriahan, bahkan tak jarang kita sengaja menghamburkan hamburkan uang secara tidak rasional. HTM di hotel berbintang yang jutaan pun bisa terjual habis seminggu sebelumnya. Luar biasa!. Sepertinya kita semua hendak menguburkan kepenatan selama satu tahun, dan berharap ditahun depan punya harapan baru yang lebih gampang untuk diraihnya. Padahal tidak. Justru tantangan ditahun mendatang akan jauh lebih berat dibandingkan tahun ini.
Pikiran ku jauh melayang, menembus cakrawala yang kian kelam. Malam ini, malam tahun baru. Kita disini yang tengah berpesta pora, lupa bahwa ada satu tempat dimuka bumi ini dimana semua orang tengah cemas, takut dan waswas siapakah gerangan yang akan menjemput maut malam ini. Langit akan benderang, bukan karena ribuan kembang api meletup diudara, tapi karena letusan roket yang merobek robek kota, juga merenggut nyawa satu persatu saudara ku, saudara kita.
Andai anak anak ku tahu, bahwa Palestine kini tengah berdarah, aku yakin mereka akan berpikir dua kali untuk tertawa terbahak bahak. Sayang mereka masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu. Padahal seringkali kita diingatkan andai ada anggota tubuh ini sakit, yang bakal menjerit adalah sekujur tubuh. Inilah prinsip persaudaraan. Sayangnya kita sudah banyak yang lupa.
Selamat Tahun Baru 2009, semoga semangat jihad selalu ada di hati kita. Salam.