Davik Oktavian’s Weblog

Entries from January 2009

BA 135 WK

January 30, 2009 · 7 Comments

image092‘Papa, nggak asyik. Pokok nya papa ngga asyik’, protes Rara putri bungsu ku. ‘Lho koq ngga asyik, emang nya papa bikin salah apa dek’, tanya ku tak mengerti. ‘Papa koq tega tega nya njual mobil kesayangan kita, kan papa tau mobil itu selalu bersama kita mulai dari Padang dulu’. Inget kan dengan mobil itu kita jalan jalan ke Bukit Tinggi, nginep di Lembah Harau, maen ke Solok, metik strawbery di Alahan Panjang terus dengan mobil itu juga setiap pagi aku dianter mama ke sekolah. ‘Pokok nya aku sebel sama papa’, teriak nya dengan penuh kejengkelan.

‘Papa kan butuh uang dek, jadi yang bisa kita jual ya mobil itu’, jelas ku. ‘Ya kalo butuh uang, kan papa  bisa jual yang lain, bukan mobil ku itu. ‘Aku sedih banget pa, harus berpisah dengan CRV hitam ku itu, lanjut nya lagi sambil menahan air mata nya yang hampir tumpah. ‘Udah, adek doain papa aja ya, biar bisa dapet rejeki terus kita bisa beli lagi mobil yang baru, bujuk ku. Lagian kan kita udah pake ampir 5 tahun dek, masa adek ga bosen. Bosen? mana mungkin lah pa, wong terlalu banyak kenangan nya itu mobil, sanggah nya. ‘Pa, batalin aja ya pa, ya pa..’

Berpisah dengan sesuatu yang kita sayangi sungguh sangat berat. Apalagi bila ada sejuta kenangan manis bersama nya. Makanya terkadang sangat miris rasanya bila melihat ada anggota dewan yang selalu mangkir kalo ada rapat yang membahas kepentingan masyarakat yang memilih nya. Belum lagi tidak sedikit yang malah ditangkepin ama KPK. Padahal untuk dapet posisi itu kan ga gampang. Pasti banyak kenangan manis dan perjuangan untuk meraihnya. Coba kita lihat upaya para caleg tersebut yang mesti bergerilya dari satu kampung ke kampung yang lain nya, belum lagi berapa banyak pohon yang menjadi korban karena ditempelin foto foto mereka  dan terakhir beriklan di FB agar masyarakat tau siapa gerangan diri nya. Hari hari untuk mendapatkan ‘kursi’ tadi bila mereka jujur pasti tak akan mudah untuk dilupakan.

Sedihnya, setelah terpilih begitu cepat kenangan manis itu berlalu dan terlupakan. Idealisme menguap tak berbekas, dan hebatnya terkadang harga diri tergadai oleh uang yang tak seberapa. Atau jangan jangan kita terlalu banyak berharap sehingga kekecewaan teramat sangat bila ternyata yang kita pilih ternyata tak seindah warna aslinya. Atau juga jangan jangan kita terlalu romantis seperti halnya Rara anak ku, yang selalu menggenggam kenangan manis nya. I love you, sayang….

Categories: Uncategorized

Solider..

January 28, 2009 · 11 Comments

Sebelum berangkat ke sekolah pagi tadi, Farras (anak kedua ku) mendekati aku yang tengah menikmati secangkir kopi. Aku tau ada sesuatu yang hendak dia sampaikan, tapi kelihatan dia agak sedikit ragu. Ragu karena takut aku akan memarahi nya. ‘Pa, aku mau ngomong sesuatu, tapi papa jangan marah ya’, ujar nya sedikit memelas. Ngomong aja bang, ada apa? tanya ku sambil menyeruput kopi yang masih hangat. ‘ Hari ini, aku pulang sekolah agak telat pa’, hmm terus?  komentar ku sekena nya. “Aku sama temen temen ku kena hukuman mbersihin kamar mandi sekolah, Pa”. Lho, emang kamu bikin kesalahan apa bang? tanya ku muali serius.

Sabtu kemaren, temen sekelas ku dipalakin sama anak sekolah lain Pa. Duit jajan nya habis dikuras terus temen ku itu juga dipukulin sampe muka nya biru biru. Nah, kami ga terima Pa, masa temen kami dipalakin kami nya diem aja. Makanya pas pulang sekolah kami sekelas nyari anak itu disekolah nya, kami kan harus solider sama temen dong pa. wah, gawat pikir ku, terus? sialnya itu anak udah ga ada disekolah nya dan yang lebih sialnya lagi pas kami mau balik kesekolah malah ketemu sama kepala sekolah kami. Walhasil , hari ini sekelas kami dihukum, harus bersihin kamar mandi sampe mengkilat. Papa ngga marah kan? tanya nya agak sedikit cemas. Ngga bang, papa ngga marah. Tapi kamu jangan sampe tawuran, hukuman nya nanti bisa lebih berat lagi bang, nasehat ku.

Surprise juga aku mendengar berita dari anak ku tadi. Entah naluri, entah siapa yang mengajarkan kalau ada teman sekolah diganggu sama anak sekolah lain, solusinya adalah rame rame mau bikin perhitungan ulang. Rasa solider, simpati atau apapun katanya menurut ku ya emang harus dipupuk sedari dini. Tapi  untuk tawuran nya, no way. Setidak nya anak ku selalu ku didik untuk tidak main hakim sendiri.

Rasa kesetiakawanan dalam tindakan positif dalam pandangan ku sih ya emang harus masuk dalam salah satu kurikulum pelajaran, sehingga kelak mereka dewasa naluri mereka untuk berbagi kepada sesama akan menjadi tindakan keseharian yang harus dijalankan. Namun kian hari aku melihat perlahan rasa kesetiakawanan sudah mulai memudar dalam hampir semua aspek kehidupan, termasuk dalam kehidupan antar negara.

Pembantaian di Gaza sebagai contoh. Kalau mau jujur sungguh kita dibuat miris. Bagaimana bisa negara negara di Jazirah Arab hanya jadi penonton manakala saudara saudara nya dibombardir zionis Israel. Padahal mayoritas semua mereka mengaku negara Islam. Betul, mereka mengalokasikan duit milyaran dollar untuk membangun kembali fasilitas yang ada di Gaza setelah semua yang mereka miliki nyaris rata dengan tanah.  Betul Palestine butuh itu tapi tapi bukan itu yang sangat dibutuhkan.  Negeri Palestine butuh kasih, butuh rasa aman, butuh perlindungan dari negeri negeri tetangga sesama muslim karena saat ini mereka selalu diintai, dan diburu.

Kenapa mereka membisu? karena mereka pasti takut, takut akan akan dihukum oleh backing nya Israel, Amerika. Takut kepentingan mereka terusik bila membantu Palestine. Takut akan embargo ekonomi. Takut akan dihentikan nya pasokan alat perang. Semua ketakutan itu membius rasa solidaritas sesama muslim dan membiarkan gaza menjadi bulan bulanan Zionis.

Hari ini, abang Farras memberiku satu pelajaran buat ku juga sekaligus membuat ku bangga. Karena dia dan teman teman nya tidak rela melihat sahabat nya diganggu sama anak sekolah lain. Mereka tidak ingin ada teman nya disakitin oleh orang lain. Tidak perduli meski mereka harus dapat hukuman dari kepala sekolah, membersihkan kamar mandi hingga mengkilat sekalipun.

Categories: Uncategorized

Palembang kini..

January 7, 2009 · 4 Comments

Tadinya aku pikir, kota Palembang tak akan pernah berubah. Sengaja dibiarkan pemda setempat menjadi kota tua yang tidak terawat dengan mempertahankan kekumuhan, dipusat kota sekalipun. Bahkan, dulu ada anekdot hanya dua orang yang berani berjalan dimalam hari diseputaran Jembatan Ampera yaitu orang yang nekat ingin dirampok dan satu lagi orang yang sengaja ingin adu nyali menguji ilmu kebal. Kesemrawutan kota mengikis habis kemegahan Jembatan Ampera yang terbentang diatas Sungai Musi yang memisahkan wilayah Ulu dan  Ilir, menyempurnakan telah habis nya kejayaan Sriwijaya.  Namun setelah tidak pulang cukup lama, Palembang kini telah berubah, jauh berubah.

cimg0906Didepan Benteng Kuto Besak, bila dulu dipenuhi oleh pedagang kaki lima yang menjual nanas, pisang serta buah buahan lain nya yang diturunkan dari perahu perahu hingga memenuhi jalan raya, kini bersih, ditata dengan apik. Jalan yang dulu selalu berlubang dan becek, kini bersih dengan susunan pavingblock disertai dengan lampu lampu yang benderang dimalam hari. Surprise. Bayangkan, saya yang lahir dan besar di Palembang, baru kali ini bisa bermain dengan anak anak didepan Benteng peninggalan Sultan Mahmud Badaruddin  tanpa perasaan takut dan waswas.

Pasar 16 ilir yang tepat berada dibawah Jembatan Ampera pun kini pun sudah mulai dibenahi. Terlihat bahwa keseriusan dalam membenahi kota mulai tampak, bukan hanya keinginan dari walikota semata namun tekad masyarakat terlihat jelas. Jengah juga rasanya bila selama ini kota yang punya historis dengan Kerajaan Sriwijaya terlanjur dicap kota terjorok dan paling tidak aman di negeri ini. Satu tahap telah dilalui, masih ada langkah yang tengah dinanti masyarakat di seberang Ulu, kota Plaju dan Kertapati pun perlu pembenahan terencana. Tak ada yang tak bisa, selama komitmen pemerintah dan rakyat bersatu padu. Kiranya suatu saat bila berkunjung kembali, Sungai Musi dapat lebih di eksploitasi untuk tujuan wisata air, seperti hal nya yang dilakukan di Singapore, Paris, Venisia. Saya yakin itu bisa, sangat bisa bahkan.

Categories: Uncategorized