Seharus nya hari ini aku kan datang menjenguk mu di Bandung, mencium tangan dan memeluk mu erat, seperti tahun tahun sebelum ini, dihari kelahiran mu . Namun mulai tahun ini, itu tak dapat aku lakukan lagi, dan tak kan pernah lagi kan kudengar bisikan mu, ‘doain mama biar sehat dan lebih khusuk beribadah ya nak’ manakala menjawab ucapan selamat ulang tahun dari ku. Karena sesungguhnya waktu mu memang telah berakhir, janji mu telah tuntas dan engkau pun telah berpulang.
Bukan kami tak ikhlas melepas mu, tidak. Kami senang engkau telah berpulang dengan tenang, kembali pada Tuhan mu dengan jiwa yang tentram lagi Khusnul Khatimah. Namun bolehkan bila kami tak kan pernah bisa menghapus kenangan pada mu, hari hari dimana kita selalu bersama. Karena Engkaulah yang membesarkan kami, yang menyiram hati kami dengan segenap kasih mu. Tak ada pamrih, tak harap ada kembali, hingga kami bisa seperti ini, sekarang. Dan mam, itu semua tak kan pernah mampu kami hapus dalam ingatan kami. Tak kan bisa setahun, sepuluh tahun, tapi yakinlah itu tak kan lekang oleh waktu, hingga kapan pun, hingga hari perjumpaan kita kelak di Yaumil akhir.
Mam, hari ini, tak kan ada lagi karangan bunga yang paling indah untuk mu. Tak kan ada juga nyanyian merdu dari para cucu mu. Tak kan ada lagi panganan lezat tersaji di meja makan mu. Yang ada hanya doa kami, doa dari orang orang yang selalu mengasihi dan menyayangi mu, berharap agar Allah ridho atas hari hari mu. Mam, Damai lah di surga bersama hamba hamba yang selalu di kasihi Allah. Amien…




