Lha kalo jadi wakil itu ya harus sabar, nerimo, ikhlas, itulah nasehat Mas Bambang, rekan ku dulu sewaktu saya mau dilantik jadi wakil kepala kantor. Wakil itu kan artinya awak karo sikil (badan dan kaki).
Yang nama nya jadi ‘badan’ iya tentu akan jadi sasaran tembak kalo program kerja ngga jalan atau target tidak achieve, akan selalu jadi kambing hitam. Terus yang nama nya jadi ‘kaki’ iya tentu harus lebih gesit menjalankan kegiatan operasional, harus bisa lari cepet, kerja siang malem, ngga boleh capek, karena memang itulah tugas sikil.
Nah nanti kalo dinyatakan berhasil, iya sudah, harus ikhlas, karena yang akan dapat penghargaan iya tetep ‘kepala’ dan bukan wakil. Sekarang kamu harus belajar legowo, jangan jadi matahari lain di dalam kantor, karena selain akan membikin suasana akan menjadi gerah, juga bisa bikin keringetan sang kepala.
Nah sebaik baiknya wakil adalah yang bisa menutupi celah kosong yang tidak dimiliki kepala, jangan pernah berpikir kalo kamu jadi wakil bermimpi jadi kepala, itu nama nya subversif, bisa di hukum gantung didepan khalayak nanti kamu. itulah nasehat panjang dari sahabat ku yang sekarang sudah masuk masa purnabhakti tentang arti seorang wakil.
Meski sudah lama tak terdengar khabar nya, yang jelas nasehat mas Bambang tentang menjadi wakil, saya fikir masih saja valid. Kemarin Pak Beye sudah memilih banyak wakil menteri, bahkan Pak Rheynald Ghazali pagi pagi di tv udah bilang harus nya yang pantas jadi menteri Pariwisata itu bukannya Marie Elka Pangestu tapi justru wakil nya yang lebih pas, karena sang wakil punya pengalaman dan kompetensi di bidang nya.
Nah lho, bapak bapak para wakil menteri yang baru terpilih, siapkah anda untuk sekedar menjadi ‘awak karo sikil’?