Mau cari oleh oleh dari Semarang? Semua pasti akan merekomendasi untuk hunting di Jl Pandanaran. Kalo jeli memperhatikan, disepanjang jalan itu puluhan toko menawarkan oleh oleh hampir sejenis; bandeng presto, wingko babad berbagai rasa, pia, kripik serta makanan ringan lain nya. Namun dari sedemikian banyak toko, yang terlihat sangat ramai dikunjungi hanyalah satu toko saja. Toko bandeng presto ‘J’ . Saya sempat terkesan juga melihat toko tersebut karena pelataran parkirnya habis untuk gerobak PKL yang juga menjual wingko yang jelas jelas tidak bermerk toko J atau dengan kata lain toko J memberikan kesempatan kepada ‘kompetitor’ nya untuk masuk ke pekarangan nya. Apik.
Berbisnis toko oleh oleh ataupun berbisnis rumah makan, terkadang memang didominasi oleh persepsi yang dibangun oleh si pembeli sendiri. Kita sendiri terkadang disaat untuk memutuskan untuk sekedar makan siang di resto mana pastilah akan melihat seberapa ramai rumah makan tersebut. Bila terlihat sepi sepi saja, maka kita pun ber persepsi pastilah resto tersebut kalo ngga harga nya mahal, pastilah rasa nya yang nggak enak, atau paling tidak pelayanan nya yang tidak memuaskan sehingga pembeli enggan untuk berkunjung. Namun bila yang makan pada ngantri, timbul keinginan kita untuk juga mencoba menu yang mereka tawarkan. Iya kan?
Saya pikir Toko ‘J ‘ di Pandanaran tersebut bisa jadi mempermainkan persepsi kita. Lahan parkirnya yang sempit malah diberikan pada PKL untuk mencari rezeki didepan toko nya yang besar. Bisa jadi ini murni karena si pemilik ingin berbuat baik pada orang lain, tapi bisa jadi juga dengan adanya para PKL didepan toko nya malah menciptakan crowd sehingga menimbulkan persepsi positif bagi tokonya. Cerdas.
Cara pandang toko ‘J’ terhadap PKL dilahan parkirnya sungguh membuat saya kagum. Kagum karena si besar tidak perlu merasa si kecil untuk segera dihabisi dan juga merasa bahwa sikecil itu pun bukan pesaing nya. malah diberi peluang untuk mencari rezeki yang halal. Gusti Allah ga pernah salah kasih rezeki mas. Waullahualam.

