Davik Oktavian’s Weblog

Entries categorized as ‘Perenungan’

Si Endut naik Haji..

November 16, 2009 · 1 Comment

Flexi ku bergetar, ada sms masuk. ‘ Bang, insya allah minggu depan saya dan istri akan berangkat menunaikan ibadah haji, mohon doa nya ya bang’, begitu isi pesan singkat itu.

CIMG0805Hah, si Endut naik haji? tanya ku dalam hati, seolah tak percaya. Aku masih sedikit ragu, benar kah itu nomor GSM si Endut, sahabat ku semasa kecil dulu. Si Endut (kami selalu memanggil nya seperti itu karena beratnya lewat 1 kwintal) terkenal luarbiasa kebadungan nya. Hampir segala jenis minuman keras dari cap Topi miring sampai Chivas Regal telah ia teguk. Obat obatan mulai dari obat anjing gila hingga inex udah semua ditelan, bahkan konon kabarnya dari jarak 10 meter pun dia tau KW berapa bau asap gelek yang berhasil diendusnya. Tapi anehnya, semua kebiasaan buruknya itu tidak sedikitpun bisa menggerus berat badannya.

‘Assalamualaikum’, suara berat nya diujung telpon, ketika menjawab telpon ku yang penuh dengan rasa penasaran. “Beneran nih ndut sms elhu, mau naik haji?’. Kenapa, ngga percaya ya bang? jawabnya. ‘Bukan cuma elhu bang yang ngga percaya. nyokap gue pun sampe sekarang masih ngga habis pikir, anak hilang nya sudah kembali lagi’, lanjutnya lagi. Koq bisa si ndut, elhu berubah sehebat itu, gimana ceritanya? tanya ku penasaran. ‘Ah, ntar kalo gue cerita elhu juga ga bakalan percaya’, jawabnya membuat ku makin penasaran.

Sekali waktu, sepulang dugem ngga sengaja aku dengar kuliah subuh di radio mobil ku, ujarnya memulai cerita. ‘Bila maut menjemput, apa yang hendak engkau banggakan dihadapan tuhan mu? ceramah pak ustadz diradio. harta mu? keturunan mu? pangkat mu? tak satupun dari itu yang akan engkau bawa duhai pemirsa radio. Hanya amalan mu lah yang akan menemani gelap nya kubur mu. ‘Bergetar aku bang, tersentak aku dari kesetengah sadaran ku efek dari drug yang baru ketelan. Berkeringat aku bang. Rasanya tak ada amalan baik selama ini dalam hidupku. ‘Namun jangan berputus asa dari rakhmat Tuhan mu, lanjut pak ustadz memotivasi. Inilah kesempatan kita untuk berbenah diri, selagi masih ada waktu, pungkas pak ustadz dalam siaran kuliah subuhnya.

Sejak itu, aku bertekad bang, untuk merubah kebiasan buruk ku. Tak mudah memang. Apalagi disaat bisnis mulai sepi, CIMG0441stress memuncak, godaan teman untuk mencoba seteguk Baccardi atau secawan margarita adalah tantangan yang sulit untuk ku lawan. Tapi manakala aku ingat suara ustadz di radio itu ‘ apa yang akan engkau banggakan dihadapan Tuhan mu?’, segera kutinggalkan mereka, meski hampir semua mengolok olok ku, cerita nya lagi.

‘Wah, sungguh beruntung engkau Ndut’, puji ku tulus. Allah telah mengurai satu persatu hijab mu, hidayah Allah telah diberikan pada mu. ‘ Jujur aku sangat takut akan azab Allah untuk ku, namun aku pasrah’ , karena aku sangat yakin bahwa kasih Allah jauh lebih besar ketimbang dosa ku yang berjuta bagai buih lautan, lanjutnya lagi bak ustadz sejuta umat.

Aku yang mendengarkan ceritanya lewat telpon, sungguh tak dapat menahan haru ku. Sungguh maha besar Allah, Ia memilih siapa saja yang hendak Ia beri petunjuk, dan Ia menghinakan siapa saja yang hendak Ia hinakan. ‘Selamat jalan ya Ndut’, ujarku terbata. Tak ada balasan bagi Haji yang mabrur kecuali syurga, maka gapai dan genggamlah itu ndut, doa ku sebelum menutup flexi ku.

Categories: Perenungan

Selamat Tahun Baru..

December 31, 2008 · 4 Comments

‘Pa, malem ini kita mau kemana pa?’ tanya Bang Luthfi pada ku sebelum berangkat ke kantor pagi tadi. ‘Lho, emang kenapa bang?’, tanya ku balik. ‘Maen dong pa, masa’ malem tahun baru dirumah aja. ‘Papa liat deh, tetangga kita aja semua pada ga ada, mereka semua liburan keluar kota’. Masa’ kita cuma nonton tivi doang, protes nya. ‘Mbok kita maen kemana gitu, ke Ancol keq, ke Monas keq, pokoknya liat yang rame rame gitu lho pa. ‘Kita ga pernah lho liat pesta kembang api’. Sekali kali begadang kan boleh pa, rengek nya lagi.

‘Iya pa, kita ke Ancol aja pa, The Changcuters manggung pa’, aku kan fans nya ujar Farras memprovokasi abang nya. ‘Ga ah! papa mau jaga posko’, jawab ku sekena nya. ’Masa posko melulu sih pa, lebaran kemarin papa bilang kita ga bisa pulang kampung karena harus jaga posko, nah malem ini juga masa mesti jaga posko lagi, lagian kan kasihan saudara saudara kita yang berlibur kerumah, ga diajak kemana mana pa’. ‘please dong pa’, rayu nya lagi.

‘Gini aja bang, gimana kalo entar malem, kita minta mama bikin sate terus kita bakar jagung. Kita kan punya tenda, kita pasang aja dihalaman. Nah kalo sempet entar papa bisa joint, tawar ku. ‘Lagian jalanan pasti macet bang, kalo mau ke Ancol dari sore kita sudah harus berangkat’. ‘Ya udah, terserah papa aja deh’, ujar nya sambil cemberut meninggalkan ku diruang tamu.

Tahun baru selalu saja disambut dengan kegembiraan dan kemeriahan, bahkan tak jarang kita sengaja menghamburkan hamburkan uang secara tidak rasional. HTM di hotel berbintang yang jutaan pun bisa terjual habis seminggu sebelumnya. Luar biasa!. Sepertinya kita semua hendak menguburkan kepenatan selama satu tahun, dan berharap ditahun depan punya harapan baru yang lebih gampang untuk diraihnya. Padahal tidak. Justru tantangan ditahun mendatang akan jauh lebih berat dibandingkan tahun ini.

Pikiran ku jauh melayang, menembus cakrawala yang kian kelam. Malam ini, malam tahun baru. Kita disini yang tengah berpesta pora, lupa bahwa ada satu tempat dimuka bumi ini dimana semua orang tengah cemas, takut dan waswas  siapakah gerangan yang akan menjemput maut malam ini. Langit akan benderang, bukan karena ribuan kembang api meletup diudara, tapi karena letusan  roket yang merobek robek kota, juga merenggut nyawa satu persatu saudara ku, saudara kita.

Andai anak anak ku tahu, bahwa Palestine kini tengah berdarah, aku yakin mereka akan berpikir dua kali untuk tertawa terbahak bahak.  Sayang mereka masih terlalu kecil untuk memikirkan hal itu. Padahal seringkali kita diingatkan andai ada anggota tubuh ini sakit, yang bakal menjerit adalah sekujur tubuh. Inilah prinsip persaudaraan. Sayangnya kita sudah banyak yang lupa.

Selamat Tahun Baru 2009, semoga semangat jihad selalu ada di hati kita. Salam.

Categories: Perenungan

Selamat jalan sahabat..

October 21, 2008 · 11 Comments

Ga salah pak Har? tanya ku seolah tidak percaya, manakala JOM HR ku memberikan rincian yang akan diterima ahli waris manakala sahabat ku Pak Ngadiman yang meninggal dalam dinas karena kecelakaan sepeda motor minggu lalu. ‘Ya segitu itu pak, 90 juta an’, terus setiap bulan nya ahli waris akan menerima pensiun 400 ribuan. ‘Berapa,sebulan 400 ribu’? tanya ku semakin takjub . ‘Iya emang segitu pak. ‘Hitungan nya gimana sih’? tanyaku makin penasaran. ’Pensiun yang akan dibayarkan kepada janda almarhum sebesar 75% dari 75% gaji dasar almarhum’. ‘Nih, bapak lihat, ujar nya sambil mencet mencet kalkulator, dan angka yang muncul ya emang segitu, 400 ribuan.

Terbayang dipelupuk mata ku, 3 orang anak almarhum, 2 di SD dan yang terkecil belum lagi sekolah. Air mata ketiga nya tak pernah surut, sedang aku menatap nya dengan mata berkaca kaca. Mulai bulan depan sekeluarga mereka hanya hidup dengan uang 400ribuan. Ini berarti dan akan bertambah lagi penerima BLT di negeri ini, janda pensiunan telkom yang meninggal dalam tugas. :-(

Prihatin saja tidak cukup. melelehkan airmata saja tidak akan mengurangi beban keluarga sahabatku. selesai pemakaman, tak hendak aku gagal lagi, seperti hal nya kegagalan ku melempar ide agar para anak yatim keluarga besar telkom paling tidak sampe lulus sma pun ditanggung oleh beperohis atau sekar. Ide tahunan silam selalu saja menguap sepeti hilangnya harum bunga setaman manakala ditinggal para pelayat.

Namun tidak kali ini, dan Kemarin sore baperohis menyampaikan berita gembira pada ku. Alhamdulillah, para pengurus setuju anak anak yatim dari rekan rekan yang telah mendahului kita itu, insya allah akan disantuni sekolahnya.  Dana nya? ya mesti harus dicari, caranya? kita semua akan mempromokan zakat mal, infaq dan sodaqoh ke para sahabat di kantor ku. Pagi ini aku berdoa, semoga para sahabat ku berkenan mengeluarkan 2,5% dari penghasilan mereka untuk diberikan kepada yang berhak untuk menerima nya. Ada sedikit kekhawatiran, namun aku tepis, karena aku yakin kali ini tidak boleh gagal lagi. Doa in ya…

note: kalo besok waktu kita tlah sampai, tak banyak yang akan kita bawa, namun aku yakin doa anak anak yatim akan menjadi kidung indah di alam kubur..

Categories: Perenungan

Durhaka..

March 13, 2008 · 7 Comments

Dari balik kamar, aku mencuri dengar pembicaraan diruang tamu. Seorang wanita paruh baya, tetangga ku sewaktu di Surabaya dulu, terisak menceritakan kesedihannya pada istri ku. ‘Sungguh terlalu si sulung, jeung ‘, ujar nya memulai cerita pada istri ku. “Terlalu gimana Bude”? tanya istri ku penasaran. ‘Anak lanang yang aku sayangi, yang kutimang dan kusirami dengan penuh kasih, kini sama sekali ga peduli sama aku’. “Kesel hati ini jeung, sungguh kesel”, jerit nya sambil bercucuran air mata. “Jauh jauh aku kemari, rindu ingin melihat cucu ku, karena sudah tahunan dia tidak pulang menjenguk ku, eh begitu melihat ku didepan pagar, sorot matanya penuh curiga”. wah, si bunda datang, pasti ini mau minta uang, pikir Dodit anak ku itu. ‘Padahal sungguh jeung, aku ga ngarep apa pun dari dia, karena aku ikhlas membesarkan dia. Menyekolahkan dia hingga sarjana, tapi begitu kemewahan jadi milik nya, dia blas sama sekali ga inget sama bunda nya yang sudah rabun ini, lanjut nya lagi.

“Aku kesini sengaja, dateng hari minggu, karena aku harep dia bisa jemput aku di stasiun”. “tapi apa jeung”? begitu saya telpon dari wartel, malah dia bilang ‘udah..,  bunda naik ojeg saja kerumah ku’. Padahal aku tau jeung, minggu gini dia ga kerja, semalem hujan, dia takut mobil baru nya kotor. Dia tega mbiarin ibu nya yang sepuh ini, naik ojeg sambil nenteng kardus untuk oleh oleh anak nya.

Sungguh terlalu si dodit itu jeung, teriak nya lagi sambil menyeka airmata nya. Tuhan dosa apa yang aku lakuken, sehingga anak kebanggaan ku jadi begitu. ”Tadi pagi, aku bagai kesamber gluduk”, anak mantu ku malah nuduh aku ngabisin apel yang disimpen nya di kulkas. Sumpah jeung, aku ga suka apel. Aku ga makan apel yang mereka beli. Lha si Menik, anak nya sendiri yang makan, bukan aku. Coba jeung, apa ga keterlaluan mereka berdua itu, memperlakukan aku, bunda nya seperti itu, ujarnya sesenggukan.

“Mungkin mereka lagi banyak persoalan”, bude, ujar istri ku, coba menenangkan. Ga..ga.. mungkin jeung, sanggah nya lagi. Dua hari ini saya liat mereka berdua banyak bercandanya. Tapi begitu aku duduk deket mereka, mereka diam, dan satu persatu meninggal kan aku diruang tamu, sendirian. salah apa, aku ya tuhan. lanjut bude sambil menangis. “Maaf, sebentar ya bude”, pamit istriku,kedapur. Istri ku membawa makanan kecil, lemper dan tempe mendoan serta segelas markisa dingin. Belum sempet ditawarin, lemper dan tempe mendoan tandas dari piring. Maaf jeung, saya emang laper, ujarnya sedikit malu. Saya sejak kemarin sore ga makan. Masya Allah. “Kenapa, bude sakit”? tanya istriku hati hati..,  aku ga mau makan dirumah si Dodit, jeung. Kemarin, saat makan siang, di meja makan cuma ada nasi segenggam, dan kepala ikan lele yang sudah tidak ada lagi daging nya sedikit pun. Aku tanya sama anak mantu ku, “nduk, bunda dibagi dong lele nya, dimeja cuma ada kepala nya aja”. Terus anak mantu ku itu bilang’ bunda, makan kepala nya aja, badan dan ekornya sudah saya simpen  buat mas Dodit dan Menik. Coba jeung, aku betul betul terhina…ceritanya sambil menangis.

Istriku, turut berurai airmata mendengar cerita tetangga lama ku itu. “Udah kalo gitu, bude nginep dirumah saya aja ya, ga usah kerumah dodit hari ini” ajak istri ku sunguh sungguh, sambil menggenggam jemari nya erat. “Ga..jeung, terima kasih. saya mau pulang ke surabaya, sore ini juga”. aku sudah ga kerasan lagi tinggal dirumah anak lanang ku itu, lanjutnya sambil menghapus airmatanya dengan tangan.

Dari balik kamar, aku yang mencuri dengar cerita tetangga ku itu, pun tak sanggup menahan airmata. Aku teringat pada orang tua ku di Bandung juga mertua ku di Palembang dan coba mengingat ingat, apakah aku pernah melakukan perbuatan serupa itu. Sungguh, aku takut melukai perasaan mereka. Karena aku tau, Allah telah bersumpah tidak akan pernah mengijinkan anak durhaka mencium wangi nya surga, dimana mengalir sungai sungai dibawah nya.

note: maaf bude, ceritanya saya tulis di blog ku ini.  

Categories: Perenungan

Hanya Satu saja..

March 12, 2008 · 4 Comments

Sungguh, sekeping CD atau satu kaset Gito Rollies pun saya tak punya, karena saya emang bukan fans nya. Tapi berita berpulangnya Sang Rocker yang ditayangkan beberapa stasiun tivi beberapa waktu yang lalu cukup membuat mata saya berkaca kaca. Sungguh beruntung dia, sebelum berpulang, Allah telah membukakan hijab yang menutupi qalbu nya dan menyirami hidayah pada jiwa nya yang gersang. Perjalanan dari pencinta narkoba hingga berubah menjadi dai yang dapat menyejukan hati adalah akhir perjalanan yang sempurna. ‘ Jangan contoh masa lalu saya’, ujar Gito sewaktu diwawancarai salah satu stasiun tivi, ’hidup yang tak tentu arah”.  Bergaul lah dengan orang shaleh, Insya allah hidup akan tentram’, ujarnya mengingatkan.

Beberapa bulan yang lalu, juga di televisi, diberitakan puluhan calon jemaah haji gagal berangkat ke tanah suci, karena pengurus KBIH menganggap dengan pasport hijau, bisa memberangkatkan calon jamaah nya, tapi ternyata tidak. Ustadz yang mengurus keberangkatan tersebut hilang ditelan bumi, sedang jama’ah enggan pulang kekampung, karena tak kuat menanggung malu. Pada kesempatan yang lain juga diberitakan seorang guru yang seharusnya membekali moral kepada muridnya tapi ternyata malah berbuat amoral kepada anak didiknya. Dan terakhir diberitakan seorang ibu bersama anaknya meninggal karena tidak sesuap nasipun bisa dimakan padahal beberapa potong pizza sisa semalam teronggok dingin dimeja makan ku.

Dari berita diatas, sungguh takut membayangkan bagaimana akhir cerita kehidupan kita ini. Sedang keimanan kita sendiri sesungguhnya bila mau jujur bagaikan roda pedati. Terkadang pada suatu detik tertentu berada pada puncaknya, sedang pada detik berikutnya, bisa jadi tergelincir hingga titik terendah.

Bagaimana tidak? di stopan lampu merah di persimpangan jalan, dikala pengemis menengadahkan tangan nya meminta seratus, dua ratus rupiah, menoleh ke mereka pun aku enggan paling hanya lima jari kutempelkan dikaca. Padahal disetiap doa selalu kukatakan, ya allah, jangan pernah engkau palingkan muka mu dikala memandang ku.

Bagaimana tidak? seribu rupiah yang ingin ku berikan, tiba tiba kutarik kembali karena ingat pengemis yang sama sudah pernah kuberi kemarin malam. Padahal didalam setiap doa, aku katakan, ya Allah limpahkan aku rizki mu setiap hari nya pada ku, dan engkau berikan itu tanpa pernah berhitung.

Bagaimana tidak? pengamen cilik disimpang jalan berbaju compang camping, sedang dilemari baju anak ku, ada bertumpuk pakaian yang belum tentu ia gunakan sebulan ini. 

Duhai Allah sang pembolak balik hati, malu aku dihadapan mu, karena aku terlalu banyak meminta pada mu sedang aku sendiri masih enggan memberi. Semakin aku ingin dekat pada mu, semakin erat pula dunia ingin menggenggam hati ku. Aku tidak tau bagaimana akhir cerita dalam perjalan hidup yang tengah dijalani ini, namun andai engkau mengijinkan, hanya satu saja permintaan ku, panggil lah aku dalam puncak keimanan ku lagi khusnul khotimah. Karena aku yakin itulah sebaik baik nya permintaan hamba mu yang dzalim ini…..  

Categories: Perenungan

Operasi Mata..

February 26, 2008 · 1 Comment

Hari minggu kemarin, saya ikut menghadiri kegiatan sosial, operasi katarak bagi kaum dhuafa. Sedih juga melihat mereka, sebagian emang udah lanjut usia, namun diantaranya masih berusia produktif. Ahmad salah satunya, pedagang bantal keliling di bekasi dengan menahan tangis nya dia cerita, ‘alhamdulillah sekali pak, ternyata telkom itu bukan cuma cari untung tapi juga masih mau memperhatikan kami kaum dhuafa’, ujar nya mengawali kata sambutan wakil pasien. ‘ saya pernah ke RS Cipto, rekomendasi sebagai dhuafa sudah saya sertakan, namun tetap saja pihak rumah sakit,  meminta bayaran kalo saya dioperasi. ‘dengan penglihatan yang sudah tidak jelas lagi’, ‘bagaimana bisa saya mengayu sepeda jauh dari rumah untuk menjajakan guling, dagangan saya’, ujarnya sambil terisak.

Duduk disebelah saya prof didik rachbini, saya tanyakan bagaimana pengelolaan askeskin dinegeri ini serta bagaimana pandangan beliau selaku wakil rakyat dalam menterjemahkan salah satu pasal ‘ fakir misikin dan anak anak terlantar dipelihara negara? ’kita harus ber revolusi, revolusi qalbu’, jawab nya tegas. “Sekarang begitu bangga, orang memproklamirkan diri nya sebagai orang yang tidak mampu, miskin”. Sewaktu negara memberikan duit 300 ribu gratis, yang ngambil sebagian besar bukanlah orang yang tidak mampu, “lha mereka naik sepeda motor baru lho mas”, ngantri minta duit, lanjutnya lagi. “ga ada perasaan malu sama sekali blas, ini kan sudah keterlaluan”, lanjut nya lagi. Revolusi qalbu sudah waktunya kita lakukan. belum lagi kemarin, sewaktu ada pembagian tabung gas gratis, moso’ orang yg punya rumah type 54 pun ikutan minta jatah, mental kita emang sudah mental pengemis.

Saya jadi inget pesan nabi, “tangan diatas jauh lebih mulia dibandingkan tangan dibawah, memberi bantuan lebih baik daripada menerima”. Sayangnya, jarang sekali diantara kita mau mengingat pesan yang sungguh mulia ini. kita terjebak dalam perangkap keserakahan. sulit sekali kita menterjemahkan kata ‘mampu’, sehingga selalu saja merasa diri ini adalah orang yang paling sengsara, belum pantas mengeluarkan zakat, belum cukup dikategorikan orang yg mampu sehingga sudah wajib berhaji. dunia memang terlalu mempesona buat kita…

pak ahmad, yang dioperasi mata nya gratis karena dhuafa adalah berkah untuk nya, namun untuk kita mungkin juga kita perlu operasi besar, bukan operasi mata biasa, tapi operasi mata hati..

Begitu banyak titik titik hitam yang melegamkan mata hati kita, sehingga sering kali kita lupa, sesungguhnya, kita sendirilah yang patut dikasihani, dua mata yang mampu melihat dengan benderang, namun buta mata hati nya. kita tidak lagi peka begitu banyak kaum dhuafa disekeliling kita.

Memang sudah pantas rasanya juga kita operasi mata, mata hati!  “Adakah yang berkenan mau ikut bareng saya?” 

  

Categories: Perenungan

duhai si muka masam..

February 22, 2008 · 7 Comments

pagi ini selesai subuh, saya baca satu buku, “Pesan pesan bijak Luqmanul haqim”, salah satu pesan nya yang menggelitik hati yaitu ‘wahai anak ku, berkatalah dengan baik dan dengan muka yang berseri seri, maka hal itu lebih disenangi manusia daripada mereka diberi dengan sesuatu pemberian’

jujur, saya terkesima dengan pesan itu. bagaimana tidak? seringkali kita sebagai pimpinan melontarkan kata kata pedas kepada rekan sekerja seolah kita tengah berhadapan dengan orang yang paling o’on dimuka bumi ini. kekesalan akan semakin memuncak apabila penjelasan ataupun instruksi yang telah diberikan disalah terjemahkan oleh staf kita. sungguh malang  staf tersebut, dia menjadi keranjang sampah, tempat penumpahan kekesalan yg mungkin juga bermula dari kebodohan kita sendiri.

padahal Luqmanul Hakim berpesan, bicaralah dengan muka berseri. kalimat yg singkat namun begitu berat untuk kita lakukan. saya pun demikian, sulit sekali menyembunyikan kegundahan hati, padahal siapa suruh mau jadi boss yg kadar stress emang harus lebih besar dibandingkan staf? bukahkah gajinya juga jauh lebih besar?:-) iya kan? bila ingat hari hari kemarin, saya jadi ingat, begitu banyak dosa saya lakukan selaku leader. bila target yang harus diraih deviasi nya sangat besar, isi kepala rasa nya merontah rontah, seperti magma gunung berapi yang siap disemburkan. korbannya, sudah barang tentu staf, mitra kerja yang seharus nya saya kasihi. malang betul nasib staf…

mungkin benar seperti banyak orang bilang, kalo punya atasan yg usia nya relatif muda, dia menganggap semua team nya harus seperti apa yang ia inginkan, mereka harus se energik sang pemimpin. dan hebatnya sebagai atasan selalu saja terserang penyakit lupa, lupa bahwa tidak semua anggota team nya punya cadangan energi sebanyak sang pemimpin.

konflik pun muncul, sang pemimpin tidak puas dengan performance staff nya, sedang sang bawahan pun tidak puas dengan cara sang pemimpin yang selalu memaksa kehendaknya untuk turut memikul seluruh beban yang ada dipundaknya. lalu warung kopi, menjadi tempat rendezvous yg paling nyaman untuk bergosip dan berkeluh kesah.

dan perang pun berkecamuk, semua tidak ada yang ingin dipersalahkan. sedikit demi sedikit, benih virus mulai menggerogoti dari stadium 1 ke stadium berikut nya. puncaknya, pelanggan mulai terabaikan..

sungguh sulit untuk menjadi santun dikala power ada dalam kepalan tangan, penyakit ini bukanlah penyakit baru, namun sudah menjadi warisan nya Namrud yang tak mengakui kebesaran allah, atau lebih celaka lagi  Fir’aun yang menganggap dirinya tuhan. sang pemimpin seringkali tergoda menggunakan power nya ketimbang menggunakan pesona nya untuk menggerakan seluruh pasukan yang berada dalam pengendaliannya. sungguh malang sesungguhnya, duhai engkau sang pemimpin, bukahkah seharusnya dikala dipercaya menjadi khalifah, kita harus lebih banyak berbagi kasih dengan umat?

bukankah muka yang berseri seri, value nya lebih tinggi dibandingkan suatu hadiah? saya jadi teringat dikala Rasulullah ditegur Allah manakala seorang buta datang menghadap beliau namun disambut dng muka masam, padahal rasul sudah terjamin tak pernah berbuat dosa pun ditegur pula oleh allah. Lha kalo kita, manusia hina yang nilainya tidak ada sebesar debu pun dimata tuhan namun sering kali bermuka masam, mata melotot, tangan menggebrak, kaki menendang, ditempeleng hingga lebam pun rasanya belum sepadan dengan dosa yang telah dilakukan. jujur, ini terkadang jadi mimpi buruk yang menghiasi tidur pulas ku..

maka, ampunkan lah aku ya allah, karena selama ini aku sering berbuat nista pada sahabat ku. semoga engkau yang maha pengampun, berkenan menyisakan setitik rasa sayang mu pada ku, sungguh kini aku tengah mencari ridho mu, ada kah yang tersisa untuk ku?

  

Categories: Perenungan

kemanakah aku?

February 19, 2008 · 1 Comment

Embun malam sudah mulai turun selimuti Bandung, kulirik jam tangan, pukul 11 malam, besok pagi akan ada ujian, hanya untuk mendinginkan kepala, ku keluarkan sepeda motor ku, kupacu perlahan,..diperempatan jalan, dua orang bocah, kakak beradik perpelukan erat, aku tau, sang kakak ingin memberikan kehangatan pada adik tersayang, yang seharian penuh menemani nya bernyanyi, ngamen di sepanjang jalan juanda..Mereka berdua meringkuk melawan dingin nya malam, ditariknya sepotong karung goni, dan diselimutkan menutup ujung kaki..

aku melintas pelan, dihadapan mereka, lampu merah, aku berhenti,..kuperhatikan dengan seksama, ya rabb, mereka masih terlalu kecil untuk mencari nafkah, sang kakak berusia sekitar 10 tahun, sedang si adik 5 tahunan mungkin,..entah berapa uang yang bisa mereka kumpulkan seharian, diantara dingin nya malam, tak ada orang tua nya disana, pergi entah kemana, mungkin juga tak kembali, atau mungkin juga mereka tak pernah mengenal hangat nya pelukan bunda..

Ingin sekali aku berhenti, menawarkan mereka untuk menginap di rumah kontrakan ku malam ini,  namun lampu traffic light pun hijau, mobil dibelakang ku membunyikan klakson, aku terpaksa memacu sepeda motor ku..saat itu hati ku sungguh sungguh bergetar, sehingga tanpa kusadari, butiran air mata ku pun jatuh,..lepas jalan merdeka, aku berputar ke jalan wastukencana, terus hingga tiba di picung, tempat kos ku..

sesampai dirumah, entah mengapa, ada sesuatu penyesalan yang teramat sangat, aku mengutuk diri ku sendiri, kenapa hanya sekedar klakson mobil dibelakang ku membuyarkan niat ku untuk mengasihi mereka,..senandung gugur bhisma nya sudjiwo tedjo, tak bisa membuatku terlelap, hingga adzan subuh dari masjid pun bergema

ya allah, kenapa engkau tak memberikan ku kekuatan untuk menjalankan kebaikan pada hari ini? alangkah lemah nya aku, sebegitu hitam kah hati ku ini, mana kala ada setitik sinar ajaran mu yang hendak kugapai; tangan, kaki dan hati inipun masih terbelenggu, masih ada kah kesempatan bagi ku pagi ini untuk berbenah diri?

Di Kampus, aku kehilangan sebagian semangat ku, ingatan ku masih juga terbayang kepada dua bocah tadi malam, yang tidur berpelukan, dengan diselimuti karung goni di perempatan jalan,.. ‘ sudahlah bang, kalo abang terus bersedih seperti itu, pikiran menjadi tak tenang, nanti tak lulus pulak abang ujian’, ingat pudji sahabat ku..’ lebih baik, abang konsentrasikan dulu pikiran pagi ini, kalo abang lulus ujian, cepat kerja, duit banyak, bukan cuma dua anak yang bisa abang selamatkan, ada ribuan orang seperti itu terkapar dijalan bang’, lanjut nya lagi…

nasehat sahabatku itu, makin membuat ku menggigil,..”ada ribuan bocah seperti itu terkapar dijalan”,kata kata itu selalu terngiang ditelinga ku, ya allah engkau turunkan banyak rezeki pada kami, umat mu, tapi kenapa kami tak mau menyantuni fakir miskin? kami sibuk dengan keluarga kami sendiri, sehingga lupa bahwa mereka pun, sesungguh nya adalah tanggung jawab kami, apakah kami masuk lingkungan ’sang pendusta agama’, seperti yang termuat dalam Al-ma’un Mu? masih adakah sejengkal surga buat kami kelak dihari perhitungan ya rahim, padahal semasa hidup kami, tak sesuap nasi pun kami berikan bagi mereka yang papah..

Categories: Perenungan

Bunda

February 18, 2008 · 1 Comment

Bunda

 Sulit bagiku mencari kata yang paling pas, tuk ungkapkan perasaanku padamu,..

Bagaimana tidak bunda, Kenangan masa lalu berkelebat dan hadir dalam mimpi indahku

Kuingat Bunda,.. bagaimana engkau selalu memberikan sesuatu yang lebih untuk ku,

Dan ketika saudara ku yang lain protes,..engkau selalu membela ku,..Ah…, dia kan masih kecil, ..

Bunda ingin Ia cepat besar, agar nanti bisa membantu bunda katamu ..Aku tersenyum……. menang..

kata kata bunda adalah fatwa untuk kami semua,..Meski kadangkala kami tidak selalu setuju,… 

alif…ba…ta…engkau ajarkan kami satu persatu huruf hijaiyah,..

bukankah kalimat pertama Allah, kala menyapa rasulullah dengan perkataan…. Iqro’..bacalah..

kita harus pandai membaca..agar hati kita tidak buta… agar hati ini selalu benderang..

agar langkah yang  ditempuh tidaklah sesat ujarmu.. kala kami bertanya, kenapa kita harus belajar mengaji…

aku yang duduk dipangkuan mu, terkadang pura pura tertidur pulas, apabila giliran ku datang

tapi engkau tidak membangunkan ku, meski sesungguhnya engkau tau kalau aku tengah bersandiwara..

dibalik temaran lampu sentir yang menempel didinding,..engkau menggendongku ke tilam sambil berbisik menyindir ku

aih..malang benar, nasib orang yang pandai membohongi diri sendiri’..  

Bunda….detik terus berlalu,..Begitu banyak keinginanku yang kusimpan rapat rapat dalam hati ku,..

aku tau bunda…. engkau tak kan pernah mampu membelikan segala keinginan itu,..aku tidak ingin engkau bersedih,..beban yang dipikulmu sudah berat membesarkan kami anak anak 

Tapi…Itu semua tidak membuatku bisa membencimu bunda Bunda,..Ingin rasanya aku membahagiakan hati mu, namun aku tak kan pernah bisa menebus rasa kasih mu pada ku..

Labaik allahumma labaik….labaik kalla syarikala kalabaik

Aku jadi ingat..Bagaimana engkau memelukku erat didepan baitullah..Selangkah demi selangkah penuh rindu kita pada Allah dikala tawwaf

Selangkah demi selangkah penuh kasih kita bergandengan tangan diantara safa dan marwah..

Airmataku tumpah ruah diujung tahallul kita Bunda..Kumohon redhomu dalam tiap langkahku..

Bunda… Sejuta kenangan terukir dalam hidup ku..Engkaulah sitti hajar ku Bunda….     

Categories: Perenungan